SejarahSekolah Menengah Atas terjawab • terverifikasi oleh ahli Jelaskan kehidupan politik, kehidupan ekonomi,kehidupan agama, kehidupan sosial budaya kerajaan lombok dan sumbawa! (Secara singkat) Iklan Jawaban terverifikasi ahli zuhraalfiani kehidupan agama dan sosial budaya
– Kerajaan Dompu adalah salah satu kerajaan kuno yang pernah berdiri di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat NTB. Konon, bangunan yang dulu diduga merupakan tempat Kerajaan Dompu berdiri sekarang sudah diubah menjadi Masjid Raya Dompu. Namun, kediaman raja masih ada hingga sekarang dan berada di Kelurahan ini sejarah Kerajaan Dompu. Baca juga Suku-suku di Bali dan Nusa Tenggara Sejarah berdirinya Kerajaan Dompu Apabila menelusuri kembali sejarah berdirinya Kerajaan Dompu, perlu dipahami terlebih dahulu wilayah Dompu sebelum menjadi selama Kerajaan Dompu berdiri, dikenal dua istilah yang diberikan pejabat tertinggi di pemerintahan masing-masing, yaitu Ncuhi dan Sangaji atau raja. Ncuhi adalah kepala kelompok dan tokoh dalam keagamaan, sedangkan sangaji/raja adalah penguasa pada Zaman Hindu hingga berdirinya Kesultanan Dompu. Pimpinan pemerintahan Dompu pada masa itu dipimpin oleh sangaji/raja yang berjumlah 8 orang. Setelah itu, seiring berjalannya waktu, mulai didirikan sebuah kerajaan atau kesultanan di tempat itu, yang kemudian disebut sebagai Kerajaan Dompu. Untuk menentukan dengan pasti tanggal, hari, bulan, dan tahun berapa Kerajaan Dompu berdiri sangat sulit karena tidak ada prasasti yang menceritakannya.
7 Sejarah Masuknya Islam di Pulau Lombok (Kerajaan Selaparang) Berkembangnya Agama Islam selama pemerintahan kerajaan "Selaparang Periode Islam" dan munculnya kerajaan kerajaan lain di daerah Sumbawa ternyata membawa dampak yang luar biasa dalam sejarah Lombok. Perkembangan ini ternyata mampu mempercepat proses runtuhnya Kerajaan Majapahit
A. Kerajaan Lombok1 Kondisi GeografisLetak kerajaan Lombok berada di Selaparang yang saat ini berada di Desa Selaparang, Kecamatan Swela, Kabupaten Lombok Timur. Kondisi wilayah Lombok berupa dataran, perbukitan, dan bergunung. Wilayah tertinggi adalah Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anak sebagai sumber mata air bagi penduduk disekitarnya. Gunung Rinjani dikelilingi oleh hutan yang tersebar di setiap kabupaten. Bagian selatan Pulau Lombok memiliki tanah subur yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian dengan variasi tanaman seperti jagung, padi, tembakau, kapas, dan Kehidupan PolitikPada awalnya Kerajaan Lombok terletak di wilayah Sambelia, Lombok Timur. Akan tetapi, pada awal pendiriannya Kerajaan Lombok masih sebagai kerajaan Hindu. Pengaruh Islam di Kerajaan Lombok dibawa oleh Sunan Prapen pada abad XVI Masehi setelah Kerajaan Majapahit runtuh. Pada abad XVI Masehi Kerajaan Lombok sedang diperintahkan Prabu Rangkesari atas ajakan Sunan Prapen, Prabu Rangkasari memeluk agama memeluk Islam, Prabu Rangkesari memindahkan pusat Kerajaan Lombok ke Desa Selaparang atas usul Patih Bannda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan karena letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang musuh dibandingkan posisi memindahkan pusat pemerintahan ke Selaparang, Kerajaan Selaparang mengalami kemajuan pesat. Dalam buku Mozaik Budaya Mataram dijelaskan bahwa Kerajaan Lombok untuk mengembangkan wilayah kekuasaannya hingga ke Sumbawa Kehidupan EkonomiKerajaan Lombok menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertanian. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kondisi geografis Lombok sangat mendukung kegiatan pertanian utama yang dikembangkan masyarakat Lombok adalah penanaman padi. Tanaman padi dikembangkan masyarakat Lombok karena didukung kesuburan tanah akibat adanya material vulkanik Gunung Kehidupan AgamaSebelum mengenal Islam, masyarakat Lombok menganut kepercayaan animisme, dinamisme, dan agama Hindu. Islam masuk di Lombok dibawa Sunan Prapen setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Dalam menyampaikan ajaran Islam, Sunan Prapen tidak menghilangkan kebiasaan masyarakat Lombok yang masih menganut kepercayaan lama. Bahkan, terjadi akulturasi antara Islam dan budaya masyarakat setempat. Sunan Prapen kemudian memanfaatkan adat istiadat setempat untuk mempermudah dan ajaran Islam. Salah satu akulturasi ajaran Islam dengan budaya lokal adalah munculnya ajaran Islam Wetu Kehidupan Sosial BudayaSecara tradisional, suku Sasak merupakan etnis utama yang menghuni mayoritas Pulau Lombok. Menurut prasasti Tong-Tong yang ditemukan di Pujungan, Bali, dijelaskan bahwa suku Sasak sudah menghuni Pulau Lombok sejak abad IX-XI Gorys Keraf, jika dirunut dari bahasanya, leluhur suku Sasak berasal dari Jawa. Pendapat Gorys Keraf didasarkan pada adanya tulisan Jejawan yang digunakan masyarakat Kerajaan Sumbawa1 Kondisi GeografisKerajaan Sumbawa terletak di Pulau Sumbawa, sebelah timur Pulau Lombok. Pulau Sumbawa merupakan pulau terbesar pada gugusan Kepulauan Nusa Sumbawa dipandang lebih strategis dibandingkan Kerajaan Lombok karena pusat Kerajaan Sumbawa terletak pada dataran yang agak tinggi tepatnya di kaki Gunung Tambora. Letaknya yang berada di dataran tinggi menyebabkan Kerajaan Sumbawa dapat mengantisipasi jika sewaktu-waktu mendapat serangan dari Kehidupan PolitikRaja pertama Kerajaan Sumbawa yang memeluk Islam adalah Dewa Majaruwa. Sebagai kerajaan baru yang bercorak Islam, Kerajaan Sumbawa melakukan hubungan dengan kerajaan Islam lain seperti Kerajaan Demak dan Gowa Tallo. Setelah Dewa Majaruwa meninggal, kedudukannya digantikan Mas Goa yang masih menganut agama tahta kerajaan ini membuat kerajaan Gowa Tallo marah dan menganggap Kerajaan Sumbawa telah mengingkari perjanjian sebelumnya. Atas campur tangan Kerajaan Gowa Tallo pada tahun 1673 Mas Goa diturunkan paksa sebagai Raja Sumbawa. Dengan turunnya Mas Goa berakhir juga kekuasaan Dinasti Dewa Awan Kuning di Kerajaan Sumbawa. Raja Sumbawa selanjutnya adalah Sultan Harunurrasyid I. Pada masa ini Kerajaan Sumbawa menguasai dua kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Empang dan Jerewet. Dalam bidang pemerintahan, Raja Sumbawa dianggap sebagai orang yang dituakan dan tokoh pemersatu. Kedudukan raja dalam bidang pemerintah dibantu suatu dewan yang bernama Majelis Lima Belas Orang. Dalam urusan hukum raja dibantu manteri telu, memanca lima, dan lelurah pitu. Kombinasi raja dan ketiga pejabat tersebut disebut catur Kehidupan EkonomiPerekonomian Kerajaan Sumbawa menitikberatkan pada kegiatan pertanian lahan kering. Pertanian lahan kering dilakukan karena sebagian besar Pulau Sumbawa adalah tanah kering. Beberapa hasil pertanian Kerajaan Sumbawa, yaitu padi dan umbi-umbian. Dalam bidang perternakan, Kerajaan Sumbawa merupakan daerah peternak kuda terbaik. Dalam catatan sejarah sebelum dipengaruhi Islam, wilayah Sumbawa merupakan penghasil kuda hal perdagangan komoditas yang cukup terkenal dari Sumbawa adalah madu. Madu-madu diambil langsung dari alam seperti di pegunungan dan hutan-hutan. Madu Sumbawa diperdagangkan dengan pedagang dari Makassar karena pada masa pemerintahan Dewa Majaruwa Kerajaan Gowa Tallo dan Kerajaan Sumbawa telah mengadakan perjanjian politik dan Kehidupan Sosial BudayaMasyarakat Sumbawa didominasi suku bangsa Sumbawa. Menurut akar sejarahnya, suku Sumbawa merupakan percampuran antara penduduk asli Sumbawa, masyarakat Jawa, dan masyarakat Bugis. Pengaruh Jawa dan Bugis dapat dlihat dari bukti istilah Jawa dalam struktur pemerintahan Kerajaan ritual biso tiyan, yaitu selametan tujuh bulan kehamilan pertama gelar daeng dan datu bagi anak yang dipakai bangsawan Sumbawa mirip hiasan masyarakat Kerajaan BimaMulanya, Bima merupakan kerajaan yang dipengaruhi oleh Hindu-Buddha yang bercampur dengan kebudayaan asli. Sebelum Islam datang, penduduknya memercayai arwah-arwah leluhur mereka sebagai penjaga kehidupan. Pada awal abad ke-17, barulah ajaran Islam masuk ke Bima, yang terletak di bagian timur pulau Sumbawa. Tepatnya pada tahun 1620, raja Bima yang bernama La Ka'i memeluk Islam dan namanya berganti menjadi Abdul ajara Islam telah masuk ke daerah Sumbawa sejak abad ke-16. Persebaran Islam di wilayah ini terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama sekitar tahun 1540-1550 oleh para mubaligh dan pedagang dari Demak. Sementara, Gelombang kedua terjadi pada 1620 oleh orang-orang Sulawesi. Pada gelombang kedua inilah Raja Bima, La Ka'i tertarik untuk menjadi muslim. Sejak penguasanya masuk Islam, Bima menjelma menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah timur Nusantara. Para ulama yang berdakwah sebagian diangkat menjadi penasihat Sultan dan berperan besar dalam menentukan kebijakan Kerajaan. Banyak ulama termasyur yang datang ke Bima ini. Ada Syekh Umar al-Bantani dari Banten yang berasal dari Arab, Datuk Di Bandang dari Minangkabau, Datuk Di Tiro dari Aceh, Kadi Jalaludin serta Syekh Umar Bamahsun dari bagian barat dan timur pelabuhan Bima telah terdapat perkampungan orang Melayu. Perkampungan ini menjadi pusat pengajaran Islam. Sultan Bima begitu menghormati orang-orang Melayu dan menganggap mereka saudara. Mereka bahkan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Ulama dan penghulu Melayu mendapat hak istimewa untuk mengatur perkampungan mereka sesuai dengan hukum Islam. Dengan demikian, bahasa Melayu dengan mudah menyebar di Bima dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan Kerajaan Bima meliputi Pulau Flores, Timor, Solor, Sumba, dan Sawu. Pada waktu itu, Bima merupakan salah satu bandar utama. Para pedagang yang pergi dari Malaka ke Maluku, aatau sebaliknya, pasti melewati perairan meningkatkan perdagangannya, Bima mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain yang berdekatan. Salah satunya dengan Kerajaan Goa. Datuk Di Bandang dan Datuk Di Tiro adalah ulama yang datang ke Sumbawa atas dukungan Goa. Hubungan dua kerajaan ini dipererat dengan pernikahan antara keluarga kedua Bima terbukti telah membantu pihak Goa dalam menghadapi Belanda. Ketika Goa menandatangani Perjanjian Bongaya taahun 1667 dengan pihak Belanda, Bima pun dipaksa untuk ikut menandatangani perjanjian tersebut. Ketika itu Sultan Bima menolak. Namun, dua tahun kemudian, 1669, Kerajaan Bima akhirnya harus mengakui kekuasaan Belanda. Perjanjian damai pun dilaksanakan, sejak itulah bangsa Belanda ikut serta dalam urusan dalam negeri tahun 1906, penguasa Bima, Sultan Ibrahim, dipaksa menandatangani kontrak politik yang bertujuan menghapus kedaulatan Kerajaan Bima oleh Belanda. Isi perjanjian ini antara lain Bima mengakui wilayahnya menjadi bagian dari kekuasaan Hindia-Belanda, Sultan tidak boleh mengadakan kerjasama dengan bangsa Eropa lain. Selain itu, Bima harus membantu Belanda bila sedang berperang dan Sultan dilarang menyerahkan kekuasaannya selain kepada Belanda. Pada masa pemerintahan sultan terakhir, Muhammad Salahuddin 1915-1951, pendidikan agama Islam mengalami perkembangan yang pesat. Sultan Muhammad memperbanyak sarana peribadahan dan pendidikan, seperti masjid dan madrasah sekolah Islam.Kerajaan Baima berakhir pada tahun 1951 karena Sultan Muhammad Salahuddin meninggal dunia. Di samping itu, sebelumnya Bima telah mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan menjadi bagiannya. Kini Bima menjadi wilayah kabupaten, berada dalam Provinsi Nusa Tenggara Buku paket Sejarah Indonesia Intan Pariwara
WilayahKerajaan Bima meliputi Pulau Sumbawa, Sawu, Solor, Sumba, Larantuka, Ende, Manggarai dan Komodo. Kerajaan Bima berjaya pada masa pemerintahan Raja Mitra Indrati (Raja Ke-7), dimana pelabuhan berkembang sangat pesat. Pasca meletusnya Gunung Tambora, kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya masih dalam kondisi memprihatinkan.
Kerajaan Bima lebih sering disebut Kesultanan Bima, adalah kerajaan Islam yang telah didirikan sejak tahun 1621 Masehi di Pulau Sumbawa. Sepanjang sejarahnya, Kesultanan Bima telah dipimpin oleh 14 Sultan, Muhammad Salahuddin menjadi Sultan Bima yang terakhir. Jika dibandingkan kesultanan lainnya yang pernah ada di Indonesia, mungkin masih banyak yang kurang familiar dengan nama Kerajaan Bima. Untuk itu, disini Kami akan memberikan ulasan lengkap tentang sejarah Kerajaan Bima, masa pemerintahan, kehidupan masyarakat, dll. Bagi yang belum tahu, yuk simak! Sejarah Kerajaan Bimaa. Awal Pendirianb. Awal KesultananPeta Lokasi dan Letak Wilayah KekuasaanSilsilah Raja & Masa Pemerintahan1. Sultan Abdul Kahir 1601 – 16402. Sultan Abdul Khair Sirajuddin 1640 – 16823. Sultan Nuruddin 1682 – 16874. Sultan Jamaluddin 1687 – 16965. Sultan Hasanuddin 1689 – 17316. Sultan Alauddin Syah 1731 – 17427. Sultan Ismail 1819 – 18548. Sultan Muhammad Salahuddin 1915 – 1951Kehidupan Masyarakata. Kehidupan Sosial dan Budayab. Kehidupan Keagamaanc. Kehidupan EkonomiMasa KejayaanMasa Keruntuhan dan PenyebabnyaPeninggalan Sejaraha. Istana Asi Mbojob. Istana Asi Bouc. Masjid Sultan Muhammad Salahuddind. Masjid Al-Muwahiddine. Rimpu Membahas tentang asal usul Kerajaan Bima sebenarnya cukup kompleks. Hal itu karena masih sulit untuk memisahkan antara kisah nyata dengan legenda yang hingga saat ini masih sangat diyakini kebenarannya oleh masyarakat setempat. Apalagi, tidak banyak sumber sejarah dalam versi tertulis, karena dulunya sebelum memeluk agama Islam, rakyat Kerajaan ini belum mengenal dunia menulis. Simak berikut ini sedikit ringkasan sejarah Kerajaan Bima a. Awal Pendirian Sebelum memeluk agama Islam, Kesultanan Bima awalnya adalah kelompok suku yang menganut paham dinamisme dan animisme. Konon sebelum terbentuknya kerajaan Bima, dulunya kerajaan ini bermula dari lima kelompok yang masing-masing dipimpin oleh seseorang yang disebut Ncuhi. Ncuhi Dara menjadi pemimpin di Bima Tengah, Ncuhi Parewa menjadi pemimpin di Bima Selatan, Ncuhi Padolo menjadi pempin di Bima Barat, Ncuhi Banggapura menjadi pemimpin di Bima Utara dan Ncuhi Dorowani menjadi pemimpin di Bima Timur. Selain itu asal usul tersebut, ada juga yang menyebutkan bahwa Kerajaan Bima bermula dari putra-putra Maharaja Pandu Dewata, yakni Darmawangsa, Sang Bima, Sang Arjuna, Sang Kula dan Sang Dewa. Kemudian, masyarakat Kerajaan Bima disatukan dengan suku-suku lainnya yang ada disekitar mereka, penyatuan ini dilakukan oleh Sang Bima yang membawa ajaran Hindu dari Jawa. Dari sinilah awal berdirinya kerajaan, dan Sang Bima menjadi raja pertama yang diberikan gelar Sangaji sebagai pendiri kerajaan. Pada awal berdirinya di abad ke 11 Masehi ada dua nama kerajaan, yakni Kerajaan Bima dan Kerajaan Mojo. Nama Kerajaan Bima diberikan oleh pendudukan setempat, sementara untuk nama Kerajaan Mojo diberikan oleh pemangku adat disebut Ncuhi. Sang Bima memutuskan untuk datang ke Kerajaan Medang setelah ia mendidikan Kerajaan tersebut. Untuk mengisi kekosongan di Kerajaan Bima, ia mengutus kedua putranya untuk menjadi Sangaji Kerajaan. Putranya yang bernama Indra Zamrud diangkat sebagai Sangaji di Kerajaan Bima, sementara Indra Kumala diangkat sebagai Sangaji di Dompu. b. Awal Kesultanan Penyebaran Islam pertama kali dimulai sejak tahun 1540, saat itu banyak pedagang dan mubalig dari Kesultanan Demak datang ke Kesultanan Bima. Sunan Prapen berpengaruh dalam menyiarkan Islam di Kerajaan Bima, kemudian terhenti karena wafatnya Sultan Trenggono di tahun yang sama. Penyebaran Islam dilanjutkan kembali oleh para mubalig dan pedagang dari Kesultanan Ternate yang diutus oleh Sultan Baabullah pada tahun 1580 Kemudian tahun 1619, penyiaran Islam diteruskan kembali oleh Sultan Alauddin dengan mengutus para mubalig dari Kerajaan Bone dan Tallo serta Kesultanan Luwu untuk datang ke Kerajaan Bima. Pada awal tahun 1030 Hijriyah, Raja La Kai memutuskan untuk menjadi seorang mualaf dengan memeluk agama Islam. Disaat yang sama, Kerajaan Bima diganti menjadi Kesultanan Bima dan Islam menjadi agama resmi yang diyakini oleh masyarakat dan bangsawan di Bima. Peta Lokasi dan Letak Wilayah Kekuasaan Letak Kerajaan Bima berbatasan secara langsung dengan Samudera Hindia dan Laut Jawa di selatan. Di bagian barat, Kerajaan ini berbatasan dengan Dompun. Sementara di bagian timur berbatasan dengan Manggarai. Kerajaan juga mendapatkan kekuasaan di pantai barat Semenanjung Gunung Tamboram, yakni wilayah Kerajaan Sanggar di tahun 1928. Secara geografis, Kamu bisa melihat peta lokasi Kesultanan Bima pada gambar berikut ini Wilayah kekuasaan Bima pada abad ke 19 Masehi mencakup pulau pulau kecil di Selat Alas, Manggarai dan Pulau Sumbawa bagian timur. Daerah Reo dan daerah Pota adalah daerah kekuasaan Kerajaan Bima di Manggarai. Sedangkan di Pulau Sumbawa, kekuasaan Kesultanan Bima dibagi menjadi beberapa daerah yaitu Bolo, Sape dan daerah tersebut dipimpin oleh seseorang, oleh masyarakat disebut galarang. Distrik Bolo, Sape dan Belo masing-masing dibagi lagi menjadi daerah perkampungan-perkampungan yang dikepalai kepala kampung. Namun, memasuki tahun 1938, wilayah kekuasaan Kesultanan ini harus berkurang setelah mengadakan perjanjian dengan Gubernur Hindia Belanda. Silsilah Raja & Masa Pemerintahan Menurut silsilah di Kesultanan Bima, para raja diberikan gelar Ruma yang melambangkan wakill Allah di Bumi dan Khalifah. Seorang pemimpin diberikan amanah dari penduduk untuk menjadi seorang pemerintah sehingga dalam tugasnya harus mengutamakan kepentingan masyarakat, diatas kepentingan pribadinya. Sistem pemerintahan di kesultanan dilaksanakan berdasarkan syariat dan ajaran Islam. Nilai-nilai budaya yang dipelajari oleh masyarakat pun jika tidak boleh bertentangan dengan Islam dan hal ini sudah menjadi tradisi di pemerintahan Kerajaan Bima. Pada tahun 1908, Kesultanan Bima masih dikuasai oleh Hindia Belanda yang pada saat itu menerapakan sistem pemerintahan terpusat. Selama periode tersebut, Kesultanan Bima dibagi menjadi lima distrik dengan masing-masing pemimpinnya. Berikut ini Distrik Bolo dipimpin Rato Parado Distrik Belodipimpin Raja Sakuru Distrik Sape dipimpin Raja Bicara Distrik Donggo dipimpin Sultan Muda Distrik Rasanae dipimpin Sultan Memasuki tahun 1909, sistem pemerintahan Kerajaan Bima pindah ke Makassar setelah bergabung dengan Keresidenan Timur Hindia-Belanda. Karena adanya perpindahan sistem pemerintahan ini membuat segala urusan kesultanan di Bima harus berdasarkan persetujuan colonial Belanda, termasuk dalam kehidupan politik. Berikut ini silsilah raja yang pernah menjadi pemimpin di Kesultanan Bima 1. Sultan Abdul Kahir 1601 – 1640 Sultan Abdul Kahir sebagai raja di Kesultanan Bima mendapatkan gelar Rumata Ma Bata Wadu, beliau memeluk Islam saat usianya masih 20 tahun. Setelah menjadi seorang mualaf, Sultan Abdul Kahir memutuskan untuk hijrah ke Makassar selama 19 tahun. Beliau menjadi sultan di Kesultanan Bima dan dikarunia 4 putra dari pernikahannya dengan adik permaisuri Sultan Alaudding Makassar. Selama masa pemerintahannya, Sultan Abdul Kahir memiliki tekad untuk membentuk sistem pemeritahan di Bima berdasarkan syariat Islam hingga dikenal dengan sumpahnya “Sumpah Parapi”. Isi dalam sumpah tersebut menyatakan bahwa ia rela berkorban jiwa dan raga untuk menjunjung Islam, Negeri dan Rakyat. Sultan Abdul Kahir wafat pada 22 Desember 1640 dan kepemimpinan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin. 2. Sultan Abdul Khair Sirajuddin 1640 – 1682 Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putra dari Sultan Abdul Kahir I dan Daeng Sikontu yang melanjutkan pemerintahan di Kesultanan Bima setelah ayahnya wafat. Abdul Khair menjadi sasaran penangkapan VOC karena pada saat pemerintahannya, beliau memberikan pernyataan menolak atas perjanjian Bongaya. Meneruskan cita-cita ayahnya, Abdul Khair mendirikan lembaga Sara hukum yang beranggotakan para tokoh agama dan ulama. Sehingga semasa sistem pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin dijalankan dengan hukum Islam. 3. Sultan Nuruddin 1682 – 1687 Nuruddin adalah putra dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin dengan Bonot Je’ne yang dinobatkan untuk melanjutkan tahta ayahnya. Masa kepemimpinan Sultan Nuruddin dikenal dengan Paju Monca, beliau mendirikan perkampungan tambora, membentuk perang Turnojoyo hingga membangun masjid-masjid di Jakarta Barat. 4. Sultan Jamaluddin 1687 – 1696 Sultan Jamaluddin adalah putra sulung dari pernikahan Sultan Nuruddin dengan Daeng Tamemang yang menjadi Sultan di Kerajaan Bima ke-4. Beliau dengan tegas menyatakan penolakan kerja sama dengan Belanda. Hal itu ternyata membuat Sultan Jamaluddin dijebak dan dituduh telah membunuh bibi Permaisuri Sultan Dompu. Sultan Jamaluddin di penjara atas tuduhan tersebut hingga meninggal di Penjara Batavia. 5. Sultan Hasanuddin 1689 – 1731 Setelah Sultan Jamaluddin, Sultan di Kerajaan Bima digantikan oleh putra sulungnya dengan Karaeng Tana-tana yang bernama Hasanuddin. Selama pemerintahannya, beliau mampu memperluas ajaran Islam di kerajaan dan mengadakan berbagai pembaruan struktur organisasi Pemerintahan ke arah yang lebih baik serta maju. Tidak hanya itu saja, melalui seni budaya, Sultan Hasanuddin juga memperluas syiar Islam. 6. Sultan Alauddin Syah 1731 – 1742 Melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Sultan Alauddin Syah yang bergelar Manuru Daha mencoba untuk menjalin kerja sama ekonomi, politik dan ekonomi dengan Makassar. 7. Sultan Ismail 1819 – 1854 Sultan Ismail sebenarnya merupakan Sultan Kesultanan Bima yang ke-10. Sebelumnya ada beberapa nama lain yang pernah menjadi pemimpin diantaranya Sultan Abdul Qadim 1742 – 1773, Sultanah Kumalasyah 1773 – 1795 dan Sultan Abdul Hamid 1795 – 1819. Namun tidak banyak catatan sejarah yang membahas tentang masa kepemimpinan dari nama-nama Sultan tersebut. Sultan Ismail sendiri merupakan anak dari Sultan Abdul Hamid yang diangkat sebagai Sultan di Kerajaan Bima pada November 1819. Pada awal-awal pemerintahannya, masyarakat Bima sangat menderita pasca letusan Gunung Tambora yang membuat banyak orang miskin dan kelaparan. Belum lagi dengan banyaknya serangan bajak laut serta bencana kemarau panjang yang semakin memperburuk keadaan di masyarakat Bima. Sultan Ismail memutuskan untuk patuh kepada Inggris agar dapat memperbaiki kehidupan ekonomi rakyatnya. 8. Sultan Muhammad Salahuddin 1915 – 1951 Setelah berakhirnya masa pemerintahan Sultan Ismail, kemudian dilanjutkan oleh Sultan Abdullan 1854 – 1868, Sultan Abdul Aziz 1868 – 1881 dan Sultan Ibrahim 1881 – 1915. Periode kepemimpinan Kerajaan Bima pada tahun 1915 – 1951 dilanjutkan olehSultan Muhammad Salahuddin, putra Sultan Ibrahim. Sultan Muhammad Salahuddin selama periode pemerintahannya banyak melakukan perubahan sistem pemerintahan dan keadaan politik. Beliau juga mendirikan sekolah islam di Kampo Suntu dan di Raba serta membangun masjid-masjid di setiap desa. Tidak hanya itu saja, Sultan juga membangun Badan Hukum Syara, yakni lembaga peradilan urusan agama. Sultan Muhammad Salahuddin turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan mendirikan berbagai organisasi penjuang kemerdekaan. Kehidupan Masyarakat Menurut catatan sejarah, masyarakat Bima pada awal-awal berdirinya kerajaan memiliki beberapa sifat yakni takut, malu dan sabar. Sifat-sifat tersebut diwarikan dari Sang Bima kepada anak-anaknya, Indra Zamrud dan Indra Kumala. Melalui keduanya, masyarakat di Bima juga diajarkan ilmu melaut dari Indra Zamrud dan ilmu bertani dari Indra Kumala. Sejak itu jugalah, pada abad ke-11 masehi wilayah Kerajaan Bima sudah menjadi daerah perdagangan dan menjadi kawasan penghubung antara Kerajaan Medang di Jawa dan di a. Kehidupan Sosial dan Budaya Kehidupan sosial di wilayah Kerajaan Bima terdiri dari beberapa suku, sementara untuk penduduk aslinya berasal dari suku Donggo yang menghuni wilayah pegunungan. Sedangkan untuk penduduk lainnya berasal dari suku Bima yang merupakan pendatang dari suku Bugis dan suku Makassar di wilayah pesisir Bima. Para pendatang tersebut menikah dengan penduduk asli dan menetap sebagai masyarakat suku Bima pada abad ke-14. Pendatang lainnya ada juga yang berasal dari suku Minangkabau dan suku Melayu yang menetap di daerah Benteng, Kampung Melayu dan Teluk Bima. Meskipun berasal dari beberapa suku yang berbeda, kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Kesultanan Bima hidup dengan rukun dan berdampingan sebagai pedagang maupun pelayar. Menariknya lagi, di wilayah kerajaan juga terdapat pemukiman Arab, mereka datang sebagai mubaligh dan pedagang. Sementara jika diperhatikan dari kehidupan budaya, masyarakat di Kesultanan Bima hampir sebagian besar berpegangan teguh pada budaya-budaya islami. Namun budaya Islam tersebut baru berkembang sejak Kerajaan Bima berubah menjadi Kesultanan Bima. b. Kehidupan Keagamaan Seperti yang kita tahu bahwa Kerajaan Bima merupakan kerajaan Islam sejak pemimpinnya, Raja La Kai l, memutuskan untuk menjadi seorang mualaf dan memeluk agama Islam pada awal tahun 1030 Hijriyah. Agama Islam diperkenalkan pertama kali oleh Sayyid Murtolo dari Gresik, seorang putra Syekh Maulana Ibrahim Asmara. Penyiaran agama Islam sendiri di kehidupan Kesultanan Bima dilakukan bersamaan dengan kegiatan perdagangan. Awalnya Islam hanya diterima oleh kelompok-kelompok kecil serta masyarakat yang tinggal di daerah pesisir. Penyebaran agama Islam juga mendapat pengaruh dari Kerajaan Gowa yang memperluas penyiaran ke Kepulauan Nusa Tenggara, khususnya di Pulau Sumbawa. Kemudian penyebaran Islam dilanjutkan oleh para pedagang dari kesultanan Ternate, Kesultanan Bone, Kesultanan Luwu dan kerajaan Tallo. Sejak menjadi Kesultanan Bima yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga Sultan Bima menerapkan hukum Islam dan hukum adat secara bersamaan. Pada tahun 1788, Kerajaan Bima telah mendirikan peradilan Islam yang bernama mahkamah Syariah yang mempunyai fungsi utama untuk mengadili urusan syariat keagamaan. Mulai dari sini juga-lah mayoritas masyarakat yang tinggal di Kesultanan Bima hidup dengan aturan dan ajaran agama Islam. Selain melalui perdagangan, penyiaran agama Islam juga dilakukan melalui syair-syair dalam sastra dan sejarah. c. Kehidupan Ekonomi Kehidupan ekonomi Kesultanan Bima cukup baik karena secara geografis wilayah kekuasaannya berada di ujung timur Pulau Sumbawa. Berdasarkan lokasinya tersebut, kerajaan ini mempunyai teluk yang dimanfaatkan sebagai titik pelayaran. Masyarakat menggunakan lokasi tersebut sebagai pusat pelayaran dan perdagangan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi mereka. Interaksi antara masyarakat Bima dengan pedagang pendatang yang mayoritas beragama Islam menjadi awal banyaknya penduduk yang kemudian memeluk agama Islam. Apalagi pada awal berdirinya kerajaan ini, masyarakat Bima masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Para pedagang banyak yang menjual beberapa barang seperti rotan, selapang dan soga. Masa Kejayaan Dalam catatan sejarah tidak dijelaskan secara pasti kapan dan tahun berapa Kesultanan Bima mencapai puncak kejayaannya. Karena periode kepemimpinan para sultan sultan di Kerajaan Bima selalu diwarnai dengan perlawanan terhadap pasukan VOC atau Belanda. Hal tersebut bahkan membuat salah satu sultan pernah ditangkap dan diasingkan hingga akhirnya meninggal dunia dalam penjara. Namun pada awal berdirinya Kerajaan, dijelaskan bahwa kehidupan masyarakat kerajaan Bima cukup makmur karena mereka menjalin kerjasama dengan berbagai Kesultanan daerah lainnya. Dalam bidang ekonomi pada, perdagangan, keagamaan maupun sosial-budaya cukup maju pada awal berdirinya kerajaan. Masa Keruntuhan dan Penyebabnya Kesultanan Bima berakhir pada tahun 1951 saat Sultan Muhammad Salahuddin wafat, dan dinyatakan sebagai pimpinan terakhir di kesultanan ini. Sebelum Kesultanan Bima berakhir, Bima telah mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan menjadi bagian dari wilayah tanah air. Sehingga saat ini secara administratif, Bima berada dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat. Sayangnya tidak ada penjelasan secara rinci mengenai penyebab runtuhnya Kesultanan Bima. Padahal pada masa periode kepemimpinan Muhammad Salahuddin, kehidupan masyarakat di Bima cukup makmur dan maju dalam berbagai bidang. Peninggalan Sejarah Ada beberapa peninggalan sejarah yang menjadi jejak keberadaan Kesultanan Bima, diantaranya sebagai berikut a. Istana Asi Mbojo Peninggalan ini dibangun pada tahun 1888 saat masa kepemimpinan Sultan Ibrahim dan digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin. Arsitektur pembangunan Istana Asi Mbojo dirancang oleh arsitek Obzicter Rahatta dengan memadukan gaya Belanda dan Bima. Pada masa Kesultanan Bima, istana ini digunakan sebagai kediaman keluarga Sultan dan sebagai pusat penyiaran agama. Setelah kerajaan berakhir, saat ini Istana Asi Mbojo menjadi museum peninggalan sejarah dan bisa dikunjungi oleh wisatawan. b. Istana Asi Bou Peninggalan lainnya adalah Istana ASI Bou yang dibangun pada tahun 1927, dulunya juga digunakan sebagai kediaman Sultan dan keluarganya. Istana ini dibangun sebagai kediaman sementara karena istana Asi Mbojo sedang dilakukan renovasi. Desain arsitekturnya berupa rumah panggung tradisional yang terbuat dari kayu jati. Pembangunannya menggunakan dana pribadi Sultan Muhammad Salahuddin dan sebagian disokong dari kas keuangan Kesultanan Bima. c. Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Pada masa kepemimpinan Sultan Abdul Kadim, dibangun Masjid Sultan Muhammad Salahuddin tahun 1737 Masehi. Pembangunan masjid sempat terhenti, kemudian diteruskan kembali oleh Sultan Abdul Hamid. Desain masjid dibuat bersusun tiga, hampir mirip seperti arsitektur masjid Kudus. Namun, masjid ini hancur setelah di bom oleh pasukan sekutu dalam perang dunia ke-2. Sultan Muhammad Salahuddin kemudian memerintahkan pasukannya untuk pembangunan ulang masjid. d. Masjid Al-Muwahiddin Ada juga peninggalan berupa masjid Al-Muwahhidin yang didirikan pada 1947 saat kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin. Pembangunan masjid ini bertujuan sebagai tempat ibadah sementara karena masjid Muhammad Salahuddin hancur. Di sini menjadi tempat kegiatan studi Islam, dakwah dan ibadah. e. Rimpu Rimpu diketahui merupakan pakaian wanita muslimah pada masa Kesultanan Bima. Busana ini digunakan sebagai penutup tubuh dan penutup kepala yang terdiri dari 2 lembar kain sarung. Satu kain sarung untuk menutupi kepala, dan satu sarung lainnya diikat pada perut untuk pengganti rok. Rimpu pertama kali dikenalkan di Bima pada abad ke-17 Masehi dan saat ini menjadi salah satu peninggalan Kesultanan Bima. Akhir Kata Sekarang sudah paham ya mengenai sejarah Kerajaan Bima yang pernah berdiri di Indonesia? Dari pembahasan di atas, diharapkan bisa memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai asal usul Kesultanan Bima. Meskipun sebenarnya hingga saat ini masih ada simpang siur sejarah Bima karena sulitnya menggabungkan fakta dan legenda yang diyakini oleh masyarakat setempat. Kamu juga bisa mampir ke beberapa tempat situs peninggalan Kerajaan Bima lho, jika kebetulan berkunjung ke Kota Bima Nusa Tenggara Barat. Semoga bermanfaat.
  1. Зαւኁ брոγеγοንу п
  2. Σոጉኑгуմ ևሁ ቭ
  3. Туմετар бի ղաջሮрсեզоη
21 Sultan Alauddin (1591-1639 M) 2.2 Sultan Muhammad Said (1639-1653 M) 2.3 Sultan Hasanuddin (1653-1669 M) 3 Kehidupan Politik Kerajaan Makassar. 4 Kehidupan Ekonomi Kerajaan Makassar. 5 Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Makassar. 6 Peninggalan Kerajaan Makassar. 6.1 Istana Balla Lompoa.
A. Kerajaan Ternate Tidore Kehidupan Politik di Kerajaan Ternate Tidore Di Maluku terdapat dua kerajaan yang paling berpangaruh, yakni Ternate dan Tidore. Ternate berhasil meluaskan wilayahnya dan membentuk Uli Lima. Kerajaan Tidore juga berhasil memperluas pengaruhnya dan disatukan dalam Uli Siwa. Mula-mula Kerajaan Ternate dan Tidore dapat hidup berdampingan dan tidak pernah terjadi konflik. Namun, setelah kedatangan bangsa Eropa di Maluku, mulailah terjadi pertentangan. Kerajaan-kerajaan di Maluku tidak bersatu dalam menghadapi musuh dari luar, tetapi malah bersaing dan saling menjatuhkan. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Baabullah. Sultan Baabullah dapat meluaskan daerah kekuasaannya di Maluku. Daerah kekuasaannya terbentang antara Sulawesi dan Papua. Pada abad ke-17, bangsa Belanda datang di Maluku dan segera terjadi persaingan antara Belanda dan Portugis. Belanda akhirnya berhasil menduduki benteng Portugis di Ambon dan dapat mengusir Portugis dari Maluku 1605. Belanda yang tampa ada saingan kemudian juga melakukan tindakan yang sewenang-wenang. Tindakan-tindakan penindasan tersebut jelas membuat rakyat hidup menderita. Sebagai reaksinya rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata melawan VOC. 2. Kehidupan Ekonomi di Ternate Tidore Kehidupan rakyat Maluku yang utama adalah pertanian dan perdagangan. Tanah di Kepulauan Maluku sangat subur dengan hasil utamanya cengkih dan pala. Dengan hasil rempah-rempahnya maka aktivitas perdagangan rakyat Maluku maju dengan pesat. 3. Kehidupan Sosial dan Agama Raja Maluku yang mula-mula memeluk agama Islam adalah Raja Ternate. Banyak rakyat Maluku yang memeluk agama Islam terutama penduduk yang tinggal di tepi pantai. Portugis juga menyebarkan agama Katolik. Terdapat berbagai agama yang ada di kehidupan sosial. 4. Budaya Budaya di Ternate Tidore tidak berkembang pesat karena fokus dengan perdagangan. B. Kerajaan Lombok 1. Politik Sunan Prapen berhasil mengislamkan Raja Lombok, Prabu Rangkesari. Kemudian, Prabu Rangkesari memindahkan pusat kekuasaan ke Selaparang. Pemindahan pusat kerajaan membawa suasana dan kondisi membaik bagi kerajaan dan rakyatnya. Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Kerajaan Lombok pernah diserang Kerajaan Gelgel dari Bali sebanyak 2 kali. Namun, kedua serangan tersebut dapat dipatahkan. 2. Sosial Agama Islam masuk melalui perdagangan. Mula-mula pedangang datang untuk berdagang, kemudian banyak diantara mereka yang bertempat tinggal menetap bahkan mendirikan perkampungan-perkampungan. Para pendatang dengan suku Sasak mengadakan hubungan saling menghormati. 3. Budaya Lombok dapat menciptakan sendiri aksara Sasak. Para pujangganya mengarang, menggubah, mengadaptasi, atau menyalin ke dalam lontar-lontar Sasak. Pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo, hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi. 4. Ekonomi Labuan Lombok banyak dikunjungi para pedagang. Labuan Lombok sebagai pelabuan dagang disinggahi para pelaut dan saudagar muslim dari Jawa dan mulailah timbul bandar-bandar tempat para pedagang sehingga semakin ramai. Komoditas utama masyarakat Lombok adalah padi. C. Kerajaan Bima Politik Agama Islam masuk di Bima melalui pelabuhan Sape. Abdul Kahir dinobatkan menjadi Raja Bima. Kesultanan Bima mengadakan hubungan dengan kerajaan di sekitarnya, salah satunya dengan Kerajaan Gowa. Perjanjian Bungaya akhirnya memisahkan Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima, karena semangat anti penjajahan antara kedua Kesultanan sangat merugikan perdagangan monopoly bagi Belanda di perairan Indonesia timur. Kerajaan Bima berakhir pada tahun 1951 karena Sultan Muhammad Salahuddin meninggal dunia. 2. Ekonomi Kerajaan Bima telah menjalin hubungan dagang dengan VOC. Melalui perjanjian, kerajaan-kerajaan di pulau sumbawa tidak boleh dilarang mengadakan hubungan politik maupun dagang dengan daerah-daerah lain, dengan bangsa Eropa lain atau dengan seseorang kecuali dengan persetujuan dan ijin dari VOC. 3. Budaya Setelah agama Islam masuk ke Bima, kemudian berkembang tradisi tulis. Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya. Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya rimpu. 4. Sosial Agama Islam relatif mudah diterima, karena orang Bima sebenarnya telah lama mengenal agama Islam melalui para penyiar agama dari tanah Jawa, Melayu bahkan dari para pedagang Gujarat India dan Arab di Sape. Bima menjelma menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah timur Nusantara. Saat ini, di beberapa daerah di Bima, terjadi percampuran antara Islam dan tradisi lokal. D. Kerajaan Sumbawa Politik Pada tahun 1674 M dinasti baru terbentuk dan diberi nama Dinasti Dewa Dalam Bawa’. Saat itu, rakyat Sumbawa sudah mulai memeluk agama Islam. Luas wilayah kekuasaannya dimulai dari wilayah taklukan Kerajaan Empang hingga Jereweh. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III, campur tangan Belanda sudah terlalu jauh, terutama dalam hal menarik pajak. Akhirnya meledaklah pemberontakan rakyat. 2. Ekonomi Kerajaan Sumbawa bertumpu pada kegiatan pertanian lahan kering dan peternakan kuda. 3. Sosial Rakyat Sumbawa sangat terbuka dan penuh toleransi. 4. Budaya Peninggalan budaya Kerajaan Sumbawa, antara lain Kitab Suci Al Qur’an dengan tulisan tangan oleh Muhammad Ibnu Abdullah Al Jawi dan Istana Dalam Loka.
SejarahKerajaan Makassar: Kehidupan Politik, Ekonomi, & Budaya. Di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-16 terdapat banyak kerajaan, tetapi yang terkenal adalah Gowa, Tallo, Bone, Wajo, Soppeng, dan Luwu. Berkat dakwah dari Datuk ri Bandang dan Sulaeman dari Minangkabau, akhirnya Raja Gowa dan Tallo masuk Islam (1605) dan rakyat pun segera
13 Februari 2012 SULTAN III Kebaradaan Tana Samawa atau Kabupaten Sumbawa, mulai dicatat oleh sejarah sejak Zaman Dinasti Dewa Awan Kuning, tetapi tidak banyak sumber tertulis yang bisa dijadikan bahan acuan untuk mengungkapkan situasi dan kondisi pada waktu itu. Sebagaimana masyarakat di daerah lain, sebagian rakyat Sumbawa masih menganut animisme dan sebagian sudah menganut agama Hindu. Baru pada kekuasaan raja terakhir dari dinasti Awan Kuning, yaitu Dewa Maja Purwa, ditemukan catatan tentang kegiatan kerajaan, antara lain bahwa Dewa Maja Purwa telah menandatangani perjanjian dengan Kerajaan Goa di Sulawesi. Perjanjian itu baru sebatas perdagangan antara kedua kerajaan kemudian ditingkatkan lagi dengan perjanjian saling menjaga keamanan dan ketertiban. Kerajaan Goa yang pengaruhnya lebih besar saat itu menjadi pelindung kerajaan Samawa’. Setelah Dewa Maja Purwa wafat ia digantikan oleh Mas Goa, yang masih menganut ajaran Hindu. Ia dianggap telah melanggar salah satu perjanjian damai dengan kerajaan Goa, maka resikonya ia terpaksa disingkirkan bersama pengikut pengikutnya kesebuah Hutan, kira-kira di wilayah Kecamatan Utan sekarang. Pengusiran Mas Goa dan pengikutnya ke wilayah Utan lebih arif disebut kudeta di zaman sekarang. Ia serta merta diturunkan dari tahtanya karena mangkir dari kesepakatan pendahulunya dengan Kerajaan Goa. Tidak disebutkan apa pelanggaran yang telah dilakukan Mas Goa, namun campur tangan Raja Goa di Sulawesi sangat besar. Pemberhentian secara paksa ini terjadi pada tahun 1673 M sekaligus mengakhiri pengaruh Dinasti Dewa Awan Kuning di Sumbawa. Tahun berikutnya 1674 M Dinasti baru terbentuk dan diberi nama Dinasti Dewa Dalam Bawa’. Saat itu menurut BUK Tana’ Samawa, rakyat Sumbawa sudah mulai memeluk Agama Islam. Dinasti Dewa Dalam Bawa’ ini berkuasa hingga tahun 1958. Luas wilayah kekuasaannya dimulai dari wilayah taklukan Kerajaan Empang hingga Jereweh. Raja pertama dari Dinasti Dalam Bawa ini adalah Sultan Harunurrasyid I 1674 – 1702. Ia kemudian diganti oleh putranya Pangeran Mas Madina bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I yang kawin dengan Putri Raja Sidenreng Sulawesi Selatan yang bernama I Rakia Karaeng Agang wafat, Jalaluddin Syah I ini kemudian diganti oleh Dewa Loka Lengit Ling Sampar kemudian oleh Dewa Ling Gunung Setia. Tidak banyak bahan sejarah yang dapat mengungkapkan berapa lama keduanya memerintah, tapi diperkirakan selama 10 tahun. Ada fakta yang menyatakan bahwa pada masa pemerintahan Datu Gunung Setia, kerajaan Sumbawa termasuk “ Bala Balong” lenyap dilalap si jago merah pada tanggal 26 Ramadhan 1145 Hijriah 1732 M. Pada tahun 1733 Kerajaan Sumbawa kembali dipegang oleh keponakan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I, bernama Muhammad Kaharuddin I 1733-1758. Ketika ia meninggal, kekuasaan diambil alih istrinya I Sugiratu Karaeng Bontoparang, yang bergelar Sultan Siti Aisyah. Raja wanita ini dikenal sering berselisih paham dengan pembantu raja, sehingga pada tahun 1761 ia diturunkan dari tahta dan mengharapkan , digantikan oleh Lalu Mustanderman Datu Bajing, namun ia menolak, dan menyarankan untuk mengangkat adiknya yaitu Lalu Onye Datu Ungkap Sermin 1761-1762 . ISTANA TUA Pemerintahannya Lalu Onye, hanya berjalan setahun. Konon karena ia lari dari istana untuk menghindari perang saudara, atas kekeliruannya menikahi seorang wanita yang telah lama ditinggalkan berlayar oleh suaminya, Lalu Angga Wasita yang terkenal keperkasaannya. Ia menyangka Lalu Angga Wasita sudah meninggal karena tidak pernah ada kabar beritanya. Tapi suatu hari lelaki perkasa itu muncul. Karena raja merasa bersalah maka ia lari pada malam Selasa , di hari ke 14 Ramadhan waktu bulan purnama raya. Kepergian Datu Ungkap Sermin itu membuat kursi raja menjadi lowong. Maka diangkatlah Gusti mesir Abdurrahman, keturunan Raja Banjar. Meski ia bukan trah Dinasti Dewa Dalam Bawa, tetapi memungkinkan untuk diangkat menjadi raja karena telah menikah dengan puteri Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I. ia pun diberi gelar Muhammad Jalaluddin Syah II, dan memegang kekuasaan selama 3 tahun 1762-1765. Ia mangkat pada tanggal 1 Dzulhijjah 1179 Hijriah 1765 Masehi. Untuk menggantinya diangkatlah putra mahkota yang masih berumur 9 tahun menjadi “raja boneka” yaitu Sultan Mahmud. Sedangkan yang menjalankan pemerintahan diangkat Dewa Mapeconga Mustafa datu Taliwang. Keputusan ini menimbulkan amarah datu Jereweh, karena ia sangat berambisi untuk menjadi raja. Maka ia berangkat ke Makasar untuk meminta bantuan kompeni VOC agar bisa menciptakan kekacauan di Kerajaan Sumbawa. Sebelum berangkat, datu Jereweh menemui kerajaan-kerajaan tetangganya dan mempengaruhi mereka supaya ikut mendukung rencananya dan ikut menandatangani perjanjian dengan VOC sekaligus membatalkan segala hal yang telah diatur dalam perjanjian Bongaya antara VOC dengan raja Goa yang isinya antara lain VOC tidak boleh mencampuri urusan perdagangan di kerajaan selatan. Akhirnya pada tanggal 9 Februari 1765 di Fort Rotterdam ditandatangani perjanjian antara Cornelis Senklaar Komodour sebagai wakil VOC denga pihiak raja – raja selatan yang antara lain Sultan Abdul Kadir Muhammad Dzillillah Fil Alam raja Bima , Hasanuddin Datu Jereweh mengatas namakan raja Sumbawa , Achmad Alauddin Johan Syah raja Dompu, Abdurrasyid raja Sanggar dan Abdurrahman raja Pekat. Perjanjian ini berisi tentang diperkenankannya VOC masuk Sumbawa. Tapi perjanjian ini kemudian dibatalkan lewat kontrak baru tanggal 18 Mei 1766 berkat keberhasilan diplomasi utusan kerajaan Sumbawa Dea Tumuseng. Dalam perjanjian ini disebutkan, apabila Sultan Mahmud dewasa, maka kekuasaan raja akan diserahkan kembali pada waktu Sultan Dewa Mepaconga Mustafa sakit pada tahun 1189 H 1775 M, beliau digantikan oleh Datu Busing Lalu Komak, yang bergelar Sultan Harrunnurrasyid II 1777-1790. Sementara Sultan Mahmud yang putra mahkota itu tidak pernah diangkat menjadi raja yang sebenarnya, hingga ia meninggal dunia pada 8 jumadil akhir 1194 H 1780 M dalam usia 24 tahun. Pada waktu pemerintahan Harrunnurrasyid II ini telah berhasil diselesaikan penulisan Kitab Suci Al Qur’an dengan tulisan tangan oleh Muhammad Ibnu Abdullah Al Jawi Negeri Sumbawa Madzab Safiie, tepatnya pada 28 Dzulqaidah 1199 H 1784 M. Sepeninggal Harrunnurrasyid II, tahta kerajaan beralih pada anak perempuannya, yaitu Sultan Syafiatuddin 1791-1795. Ia kemudian kawin dengan Sultan Bima dan mengikuti suaminya ke Bima, sekaligus memboyong beberapa harta pusaka kerajaan. Sebagian koleksi harta kekayaan Raja Bima sekarang adalah milik Sultan Syafiatuddin yang dibawa dari Sumbawa . Karena kejadian itu, maka diputuskan oleh para Menteri Kerajaan untuk tidak lagi mengangkat wanita sebagai raja. Sedangkan pengganti Sultan Syafiatuddin adalah putera Sultan Mahmud bernama Muhammad Kaharuddin II. Pada waktu pemerintahannya inilah Gunung Tambora meletus. Tepatnya pada hari Selasa, 21 Jumadil Awal 1230 H 1815 M. Pada waktu itu Kerajaan Sumbawa dilanda hujan debu. Dalam laporan H. Zolinger disebutkan bahwa sepertiga penduduk mati di pulau Sumbawa dan sepertiganya lagi pindah ke pulau Lombok. Sedangkan abu yang menggenangi wilayah kerajaan Sumbawa sampai setinggi lutut. Setahun kemudian Sultam Muhammad Kaharruddin II pun mangkat pada tanggal 20 Syafar 1231 Hijriah 1816 M. Pemangku kerjaan selanjutnya diserahkan kepada Nene Ranga Mele Manyurang. Ia pun tidak lama menduduki singgasana kerajaan, karena pada bulan Rabbiul Awal 1241 Hijriah 1825 M, Nene Ranga yang sudah tua itu meninggal dunia. Kekuasaan dilanjutkan oleh Abdullah hingga ia meninggal pada tanggal 87 Muharram 1252 Hijriah 1836 M. Mulai tahun 1836 sampai 1882, tahta Kerajaan Sumbawa kembali dilanjutkan oleh Putera Muhammad Kaharuddin II, yaitu Sultan Amrullah. Pada waktu pemerintahannya ini tidak banyak catatan sejarah yang bisa ditemukan, barangkali karena kerajaan baru mulai bangkit dari peristiwa meletusnya Gunung Tambora yang sangat dashyat. Sebuah letusan yang konon menyebabkan langit di Eropa diliputi kabut awan selama dua tahun. Sultan Amrullah meninggal pada tanggal 23 Agustus 1883, sementara kursi raja diteruskan oleh Sultan Muhammad Jalaluddin III, cucu Sultan Amrullah. Pada masa ini campur tangan Belanda sudah terlalu jauh, terutama dalam hal menarik pajak. Akhirnya meledaklah pemberontakan rakyat, yang membuat Belanda harus mendatangkan bala bantuan dari Makassar, sebab hampir di setiap tempat timbul amarah rakyat. Namun karena kelemahan dalam bidang persenjataan, semua bentuk pemberontakan dapat dipatahkan termasuk pemberotakan yang terjadi di Taliwang yang dilakukan Unru dan kawan-kawan. Kekuasaan Belanda lewat VOC pun semakin merajalela. Maka dimulailah babak baru, Belanda ikut bermain politik di dalam istana, dan ikut menentukan jalannya pemerintahan. Pulau Sumbawa dan Pulau Sumba dijadikan satu dalam bentuk afdeling dengan ibukota di Sumbawa Besar Ibukota Kabupaten Sumbawa sekarang. Asisten Resident yang pertama adalah Janson Van Ray. Kerajaan Sumbawa dibagi dalam dua ander afdeeling, yaitu Sumbawa Barat dan Sumbawa Timur. Dalam pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III 1833-1931 inilah dibangun “Istana Tua Dalam Loka”. Hal ini sangat dimungkinkan karena Sultan Muhammad Jalaluddin III menjalankan roda pemerintahan selama 48 tahun. Ia juga mampu menuruti kehendak Belanda. Setelah ia meninggal pada tahun 1931, kekuasaan raja turun kepada putra mahkota yang mendapat gelar Sultan Muhammad Kaharruddin III. Pada zaman pemerintahannya inilah menjadi masa peralihan kolonialisme Belanda kepada Jepang. Ketika perjanjian Kalijati ditandatangani tanggal 9 Maret 1942, organisasi – organisasi Islam di Kabupaten Sumbawa mulai mengatur siasat. Organisasi itu antara lain Nahdatul Oelama, Moehammadiah dan Al Irsyad. Sementara tiga kerajaan di pulau Sumbawa mengambil sikap tegas, menyatakan diri lepas dari kekuasaan Belanda. Tepat pada bulan Mei 1942, delapan kapal perang Jepang mendarat di Labuhan Mapin di bawah pimpinan Kolonel Haraichi, yang ternyata disambut gembira oleh rakyat. Kekuasaan Jepang tidak berlangsung lama, karena setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi Bom Atom, Jepang menyerah kepada sekutu. Peraktis kekuasaannya berakhir. Sebelum Belanda kembali masuk, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Agresi Militer Belanda ke Republik Indonesia mengakibatkan Raja Sumbawa menandatangani sebuah perjanjian politik baru dengan Belanda pada tanggal 14 Desember 1948. Isinya antara lain menjelaskan tentang sisa-sisa kekuasaan yang masih dikuasai oleh Belanda di Sumbawa. Kekuasaan tersebut ada tiga, yaitu bidang pertahanan, hubungan luar negeri dan monopoli atas candu dan garam. Setahun kemudian pemerintah Indonesia Timur berdasarkan Undang – Undang Nomor 44 tahun 1949 membentuk daerah Statuta Federasi Pulau Sumbawa, yang ditetapkan oleh Dewan Raja – raja pada tanggal 6 September 1949. Perubahan system Pemerintahan terjadi lagi dengan membentuk Propinsi Nusa Tenggara Barat, yang didasarkan pada Undang – Undang Nomor 64 Tahun 1958. Propinsi Sunda Kecil dibagi menjadi tiga Daerah Swatantra Tingkat I yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat NTB dan Nusa Tenggara Timur NTT. Khusus Daerah Swatantra I Nusa Tenggara Barat menjadi enam Daerah Swantantra Tingkat II, dimana raja sekaligus menjadi Kepala Pemerintahan. Karena itu otomatis Federasi Pulau dibubarkan. Federasi Pulau Lombok dibubarkan pada tanggal 17 Desember 1958 dan tanggal tersebut hingga sekarang dijadikan sebagai hari lahirnya Propinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan Federasi Pulau Sumbawa dibubarkan pada tanggal 22 Januari 1959 dan pada saat itu dilantiklah Sultan Muhammad Kaharruddin III menjadi Pejabat Sementara Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Sumbawa. Tanggal itulah yang dijadikan hari lahir Kabupaten Sumbawa.
Parapedagang yang pergi dari Malaka ke Maluku, atau sebaliknya, pasti melewati perairan Sumbawa. Untuk meningkatkan perdagangannya, Bima mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain yang berdekatan. Salah satunya dengan Kerajaan Goa. Datuk Di Bandang dan Datuk Di Tiro adalah ulama yang datang ke Sumbawa atas dukungan Goa.

Mataram, NTB ANTARA News - Keturunan Kesultanan Sumbawa Kedatuan Taliwang Kemutar Telu Trah Gowa Talo Dinasti Dewa Dalam Bawa, menuntut pelurusan sejarah dan pengembalian hak atas Kerajaan Sumbawa kepada pewaris yang sah, yakni keturunan dari Amas Bantan Datu Loka. Raja Muda Kesultanan Sumbawa Kedatuan Taliwang Trah Gowa Tallo, M Sahril Amin, di Taliwang, Sumbawa, NTB, Jumat, menyatakan, selama ini telah terjadi pengkaburan sejarah sehingga kesultanan Sumbawa dikuasai pihak yang tidak berhak. "Amas Bantan Datu Loka adalah Raja Sumbawa yang sah. Jadi sudah sepantasnya kami sebagai keturunan beliau melakukan pelurusan sejarah dengan mengembalikan kerajaan Sumbawa kepada pewaris yang sah," kata Amin, yang saat ini bergelar Karaeng Bontolangkasa. Upaya pelurusan sejarah itu, kata dia, bagian dari ikhtiar untuk berperan aktif dalam pengembangan umat menuju masyarakat yang madani dan tegaknya marwah dan martabat Tau dan Tana Samawa terutama yang mengatur tentang adat dan budaya Sumbawa yang diemban sultan sejak masa lampau. "Caranya dengan mengembalikan Kerajaan Sumbawa kepada pewaris yang sah sesuai adat dan tatanan budaya Nusantara," jelasnya. Ia menjelaskan, dalam sistem kesultanan mengenal sistem monarki dimana pengangkatan raja harus berdasarkan keturunan yang sesuai tatanan adat dan budaya. "Hal inilah yang mendasari kami sebagai pewaris Amas Bantan Datu Loka untuk mengembalikan konsep itu demi marwah dan martabat Sultan Sumbawa Datu Taliwang Trah Gowa Tallo Dinasti Dewa Dalam Bawa," cetusnya. Upaya lainnya dalam rangka pelurusan sejarah itu, kata Sahril Amin, dengan akan dilaksanakannya penobatan Raja Muda Kesultanan Sumbawa Trah Gowa Tallo Dinasti Dewa Dalam Bawa dalam waktu dekat. Pelurusan sejarah dan penobatan Raja Muda Kesultanan Sumbawa Kedatuan Taliwang Trah Gowa Talo itu, kata dia, telah mendapat dukungan tertulis dari Forum Silaturahmi Keraton Nusantara FSKN yang ditandatangani wakil ketua umum lembaga itu dan Dewan Adat Nusa Tenggara Barat yang ditandatangani ketuanya, L Satriwangsa. "Dukungan menunjukkan ikhtiar pelurusan sejarah yang kami lakukan saat ini sah dan diakui," katanya. Untuk itu ke depan, dia menyataan Kesultanan Sumbawa Kedatuan Taliwang akan bersinergi dengan pemerintah dan komponen lainnya dalam kehidupan sosial masyarakat dalam pengembangan ummat menuju masyarakat madani. Pewarta Nur ImansyahEditor Ade P Marboen COPYRIGHT © ANTARA 2015

Ya saya akan mengulas sedikit tentang kehidupan ekonomi kerajaan Gowa-Tallo, sebenarnya ini cuman iseng karena disuruh seseorang yaaa, kalau gitu langsung aja kita ulas kehidupan ekonomi kerajaan Gowa-Tallo. Buton demikian juga Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian jalan perdagangan waktu musim Barat yang melalui The traditional architecture of the Dalam Loka Palace in Sumbawa is a historical heritage that is stored in local culture as a royal residence. This palace was built in 1885 during the reign of Muhammad Jalaluddinsyah III which was used as a resting place for the royal family. The purpose of the research is to see the history and development of palace architecture along with the renovations that do not cause a shift in values, let alone cause the loss of meaning and social function as well as the local wisdom contained in it. The method used in this research is using a qualitative descriptive approach that starts from the stages of source collection heuristic, criticism verification, analysis and synthesis interpretation, and writing historiography, observation, interviews, literature study. The results show that the modernization referred to in the traditional architecture of the Istana Dalam Loka is to carry out a thorough restoration without changing the meaning as a moral basis that is embedded in the value of the existence of the palace in local Sumbawa. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 87 Modernisasi Arsitektur Tradisional Istana Dalam Lokal Di Sumbawa Studi Historis Arkeologi Subari1, Anwar2 Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea Email subarisejarah anwardonggo Abstract Abstract The traditional architecture of the Dalam Loka Palace in Sumbawa is a historical heritage that is stored in local culture as a royal residence. This palace was built in 1885 during the reign of Muhammad Jalaluddinsyah III which was used as a resting place for the royal family. The purpose of the research is to see the history and development of palace architecture along with the renovations that do not cause a shift in values, let alone cause the loss of meaning and social function as well as the local wisdom contained in it. The method used in this research is using a qualitative descriptive approach that starts from the stages of source collection heuristic, criticism verification, analysis and synthesis interpretation, and writing historiography, observation, interviews, literature study. The results show that the modernization referred to in the traditional architecture of the Istana Dalam Loka is to carry out a thorough restoration without changing the meaning as a moral basis that is embedded in the value of the existence of the palace in local Sumbawa. Keywords Modernization, Traditional Architecture, Palace in Loka Abstrak Abstrak Arsitektur tradisional Istana Dalam Loka di Sumbawa merupakan warisan sejarah yang tersimpan dalam budaya lokal sebagai tempat singgahsana kerajaan. Istana ini dibangun pada tahun 1885 pada masa pemerintahan Muhammad Jalaluddinsyah III yang digunakan sebagai tempat peristrahatan keluarga kerajaan. Adapun tujuan penelitian adalah untuk melihat sejarah dan perkembangan arsitektur istana seiring dengan adanya renovasi yang tidak menyebabkan terjadinya pergeseran nilai, apalagi menyebabkan hilangnya makna dan fungsi sosial serta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dimulai dari tahap pengumpulan sumber heuristic, kritik verifikasi, analisis dan sintesis Interpretasi, dan penulisan historiografi, observasi, wawancara, studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa modernisasi yang dimaksud dalam arsitektur tradisional Istana Dalam Loka adalah melakukan pemugaran kembali secara menyeluruh dengan tidak merubah makna sebagai basic moral yang tertanam dalam nilai eksistensi istana dalam lokal Sumbawa. Kata Kunci Modernisasi, Arsitektur Tradisional, Istana Dalam Loka PENDAHULUAN Arsitektur tradisional merupakan basic kekuatan budaya yang tumbuh dan berkembang seiring dengan pola perkembangan kehidupan suku dan bangsa. Dalam arsitektur tradisional tersebut, terwujud suatu warisan budaya yang ideal sehingga wujud material dari suatu kebudayaan dapat dikhayati dan diamalkan oleh masyarakat. Dengan demikian itu, wujud material itu akan melahirkan rasa cinta terhadap arsitektur budaya tradisional yang dibangun oleh leluhrnya. Berangkat dari argumentasi ini, bahwa arsitektur dapat dipahami melalui metafora keindahan yang dapat dilihat dalam sudut pandang sastra social dengan karakteristik yang berbeda. Menurut naskah kuno sastra jawa dan kitab Buk Tana Samawa secara tegas menjelaskan bahwa relevansi antara lingkungan dan kehidupan budaya manusia. Dalam Mardanas, 19857 menyatakan bahwa masyarakat tradisonal dalam proses tata kelolah wilayah dan bangunan secara popular dibangun atas dasar penikmat rasa estetika dan nilai seni. Akan tetapi lanjut mardanas, bahwa arsitektur bukan semata-mata untuk pertama kali penikmat rasa estetika bangunan yang kemudian sebagai basic utama kelangsungan hidup secara kosmis. Arsitektur tradisional budaya local Sumbawa mempunyai cirri khas dengan unsur-unsur estetika dalam hiasan yang digunakan pada rumah tradisional adalah perpaduan antara flora dan fauna. Secara Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 88 konseptual, bahwa arsitektur masyarakat tradisional Sumbawa Tana’ Samawa berdasarkan suatu pandangan hidup ontologis dalam memahami alam semesta secara universal. Filosofi hidup masyarakat tradisional Sumbawa yang disebut “Salimpat” empat unsure menjadikan sebagai penyempurnaan identitas diri. Dalam filosofi itu menurut Tato, 20082, menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna, jika terbentuk segi empat, yang merupakan mitos asal kejadian manusia yang terdiri dari empat unsure, yaitu Tanah, air, api, dan angin. Dalam kontek itu, masyarakat tradisional Sumbawa memilki konsep pemahaman struktur pelapisan alam dalam tiga bagian kosmos, yaitu alam bawah, alam tengah dan alam atas. Oleh karena itu aspek rumah tradisional masyarakat suku Sumbawa yang tersusun dalam tiga tingkatan dan berbentuk segi empat, dibangun dengan pola mengikuti bentuk kosmos menurut kepercayaan masyarakat Sumbawa. Argumentasi ini, dibangun berdasarkan bahwa alam raya tersusun dalam tiga tingkatan, 1 Nene Pang Bao Awan Pitu diatas langit ke tujuh yaitu dimana dewa-dewa di pimpin oleh seorang dewa tertinggi yang bersemayam di langit ke tujuh yang disebut Nene Kuasa dewa tunggal, 2 Pang Tengah adalah wakil-wakil dewa tertinggi yang menghuni di bumi dan bertugas mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta mengawasi tata tertib jalannya roda kosmos, 3 Pang Bawa merupakan bentuk kosmos yang paling bawah dan berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus disasrkan pada kosmologis, dan diungkapkan dalam makna simbolis-simbolis yang diturunkan secara turun temurun Hamid, 197812. Istanah tua dalam loka adalah bentuk arsitektur tradisional di Sumbawa tercermin dalam warisan budaya dan perlu dilestarikan untuk mempertankan keragaman budaya bangsa. Dan oleh sebab itu, perlu dilakukan pengkajian guna mengungkapkan warisan budaya masa lampau sebagai symbol kejayaan kerajaan Sumbawa pada masa lalu. Masalah yang di teliti dalam penelitian ini adalah sejarah dan bentuk arkeologis Dalam Loka istanah tua sebagai icon rumah adat masyarakat Sumbawa dan esensi arsitektur dalam istanah dalam loka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan penedekatan kualitatif tentang pembaharuan terhadap Istana Tua dalam loka. Adapun data dalam metode penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik pengamatan, wawancara, dan studi pustaka. Setelah data terkumpul, maka kemudian dianalisis dan dideskriptif. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah untuk mengetahui terjadi pembahuruan terhadap arsitektur tradisional istana tua dalam loka di sumbawa yang telah menjadi warisan budaya masyarakat sumbawa secara turun temurun. Pengkajian ini, dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Sedangkan dalam tahap pengumpulan data dilakukan observasi lapangan dengan para tokoh-tokoh sejarah Sumbawa dan tukang yang pernah membangun istana dalam loka Sumbawa. Hasil dari observasi dan wawancara akan didukung oleh studi pustaka. Penelitian ini cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif yang disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam untuk dapat dijelaskan melalui langkah heuristik, kritik, interprestasi, dan historiografi Heriyono, 1995. 1. Tahapan Penelitian a. Tahap observasi Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan dilakukan untuk mengumpul data dengan cara memfoto, mengukur, membuat sketsa istanah dalam loka Sumbawa. Untuk Objek penelitian dilakukan Rumah Adat Istanah Tua dalam loka yang berlokasi di Kelurahan Seketeng, Kabupaten Sumbawa Besar. b. Tahap Wawancara Wawancara dilakukan untuk mengumpul data dengan menanyakan tokoh-tokoh yang mengerti tentang sejarah dan tokoh-tokoh yang terlibat Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 89 dalam pembaharuan arsitektur tradisional istana dalam loka Sumbawa. Tahap ini diperlukan untuk mengumpul informasi-informasi yang akurat untuk mengkaji proses pembaharuan rumah adat tanah samawa. Berdasarkan hasil obserfasi lapangan, maka jenis data yang digunkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara tokoh-tokoh yang ada di masyarakat, seperti tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat. c. Tahap studi pustaka Studi pustaka dilakukan data yang diperoleh data dari peneliti terdahulu dan buku, jurnal, artikel maupun laporan yang berkaitan dengan judul penelitian yang mau diteliti. d. Tahap analisis Tahap ini dilakukan utnuk menganalisis apabila dari ketiga tahap di atas sudah dilakukan. Maka data-data yang diperoleh, kemudian di analisa berdasarkan variable penelitian yang nantinya akan di teliti mana yang valid dan tidak valid untuk diteruskan dalam bentuk penulisan. Dalam proses analisis data dalam penelitian ini menurut Moleong, 2014 dilakukan dengan cara sebagai berikut 2. Reduksi data Proses reduksi data yaitu, memilih atau menyeleksi data yang sudah terkumpulkan lalu memasukan kedalam tema, kategori, fokus, atau permasalahan penelitian. Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang terperinci. Laporan yang disusun berdasarkan data yang diperoleh direduksi, dirangkum, dipilih pada hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting. 3. Display data Proses display data yaitu penyajian data kedalam sejumlah matriks yang sesuai, misalnya matriks urutan waktu, matriks jalinan, dan lain sebagainya. Dengan kata lain proses ini adalah proses pengurutan data sesuai dengan waktu kejadian dan hal-hal yang memiliki keterkaitan untuk mendapatkan suatu interprestasi terhadap data penelitian. Dengan demikian, hal yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dala penelitian kualitatif adalah dengan teks naratif. 4. Conclution Data Proses conclution data yaitu penyimpulan data yang terkumpul dengan pelukisan atau penurutan tentang masalah-masalah yang dibahas dalam penelitian. Penyimpulan adalah memberikan kesimpulan-kesimpulan terhadap Data-data yang telah tersusun rapi menjadi tulisan yang benar tergolong komprehensif dan mendalam. Setelah sumber-sumber sejarah dikumpulkan maka kegiatan selanjutnya adalah verifikasi atau lazim disebut juga dengan kritik sumber dalam memperoleh keabsahan sumber. HASIL DAN PEMBAHASAN Sumbawa Pada Masa Kesultanan Latarbelakang sosial-historis bahwa masyarakat Sumbawa memiliki ragam budaya yang akan melahirkan kesadaran akan identitas sebagai bentuk peradaban dalam memperkaya khasana perbedaan latarbelakang kultur. Bentukan peradaban masyarakat tradisional Sumbawa tersimpan dalam pengetahuan kolektif masa lalu sebagai perwujudan nilai untuk diwariskan secara terus menerus oleh generasi mendatang. Peradaban Sumbawa memiliki cirri dalam bentuk arsitektur yang beragam dimulai dari yang tradisional, kolonial maupun yang modern. Menurut catatan sejarah bahwa Tanah Samawa Sumbawa memulai aktifitas sejarahnya sekitar abad ke 14 Masehi dengan menjalin hubungan politik bersama Dinasti Hayam Wuruk raja Majapahit dengan maha patihnya Gajah Mada 1350-1386. Dimana pada saat itu tanah Sumbawa disebut Dinasti Dewa Awan Kuning dengan wilayah kekuasaannya Jereweh, Taliwang, Seran dan raja terakhir adalah Dewa Maja Purwa. Pada saat yang sama kerajaan Dewa Awan Kuning menganut kepercayaa animisme hinduisme serta percaya pada kekuatan mistik yaitu roh Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 90 nenek moyang. Namu seiring dengan perkembangan zaman kepercayaan animisme mulai ditinggalkan dan membuka diri dengan menerima islam sebagai agama terakhir. Masuknya islam ditanah samawa sekitar abad ke 16 Masehi tepat pada tahun 1540-1550 Masehi melalui para mubaligh dan para niaga dari Demak yang pada saat itu menjadi pusat penyebaran islam di Asia Tenggara. Dan pada tahun 1623 tanah Sumbawa dibawah kekuasaan Dewa Maja Purwa ditaklukan oleh Sultan Alaudin raja Gowa dengan melakukan exspansi guna mencari cadangan pangan ke seluruh pelosok pulau Sumbawa disatu sisi dan disisi lain menyebarkan agama islam. Proses islamisasi di kerajaan Sumbawa dilakukan dengan perkawinan silang antara putra dan putri mahakota kedua kerajaan, sehingga dengan demikian memudahkan proses interaksi dan pengenalaan islam bagi kerajaan Sumbawa yang bercorak hinduisme. Dengan hadirnya islam dalam kehidupan keagamaan masyarakat Sumbawa ikut merubah sistem pemerintahan yang bercorak kerajaan hindu berubah menjadi system kesultanan islam. Dengan runtuhnya kerajaan Majapahit sehingga mengakibatkan berdirinya kerajaan-kerajaan kecil di tanah samawa menjadi kerajaan yang merdeka akibat tekanan dan pengaruh kerajaan majapahit yang menganut kepercayaan hindu. Dalam kondisi yang demikian itu menjadi sebuah langkah bagi para mubaligh untuk memperkenalkan islam terhadap masyarakat Sumbawa. Melalui kerajaan Dewa Maja Purwa Utan yang terakhir kali menganut agama islam membuat nota kesepakatan dengan Kerajaan Gowa dibawah pimpinan Karaeng Moroangang dengan hasil kesepakatan “Adat dan Rapang Samawa contoh-contoh kebaikan tidak akan diganggu gugat sepanjang raja dan rakyat menjalankan syariat islam”. Setelaah wafatnya Raja Maja Purwa penerus tahta pemerintahan kerajaan Dewa Awan Kuning digantikan oleh Mas Goa untuk melanjutkan pengaruhnya. Pada masa pemerintahannya Mas Goa melanggar hasil kesepakatan yang yang dibuat oleh Raja Maja Purwa bersama Karaeng Moroangang untuk menjalaankan saryat islam seutuhnya. Pada tahun 1637 Mas Goa diturunkan paksa oleh rakyatnya disebabka karena masih menganut pemahaman serta pengaruh hinduisme didalam lingkungan kerajaan dan beliau digantikan oleh Mas Dini. Setelah beberapa tahun menjalankan roda pemerintahan kerajaannya pada tahun 1684 Mas Dini digantikan oleh Mas Bantam yang merupakan pendiri kerajaan Sumbawa dari dinasti Dewa Dalam Bawa dengan gelar bangsawan Sultan Harun Arasyid I 1674-1702 melalui perkawinan silang dengan putri raja Gowa. Setelah itu pada tahun 1702 Masehi kerajaan Dewa Awan Kuning dipimpin oleh putra kedua Sultan Harunarrasyid I yang bernama Mas Madinah yang dinobatkan sebagai Sultan Jalaluddin Muhammadsyah I 1702-1723. Berdasarkan “Adat Barenti Ko Syara dan Barenti Ko Kitabullah” sebagaimana yang tertuang didalam “Manik Kamutar Dewa Masmawa Piagam yang menjadi dasar dalam menjalakan roda pemerintahaannya. Tiga pokok utama Sultan Jalaluddin Muhammadsyah I mulai menanamkan pengaruhnya dengan menata dan mengatur system pemerintahan antara lain, 1, politik, keamanan, dan pertahanan, 2, Kemakmuran Rakyat, dan, 3, Ketakwaan Kepada Allah swt. Pada masa pemerintahannya beliau membangun istana yang diberi nama “Istana Bala Balong. Untuk menjaga kerajaan bebas dari pengaruh dan terlepas dari pengontrol penjajah, maka Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I memimpin perang dan berjihat untuk mengusir serdadu penjajahan dari tanah Samawa. Dalam peperangan tersebut yang semakin senggit diperparah dengan gempuran kekuatan penjajah menyebabkan beliau wafat dalam perang itu. Setelah mangkat Sultan Jalaluddin Muhammadsyah I, maka yang meneruskan tahta kerajaan adalah Riwabatang Datu Balasawo Dewa Loka Ling Sampar 1723-1725 yang merupakan kakak tertua dari Sultan Jalaluddin Muhammadsyah I. Pada kekuasaannya beliau meneruskan kebijakan yang dijalankan oleh sultan selama dua tahun sampai beliau wafat dan di makamkan di “Makam Sampar yang kemudian mendapat nama Anumerta “Dewa Loka Ling Sampar”. Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 91 Wafatnya beliau menyebabkan kekosongan pemimimpin dalam kesultanan kerajaan, dan setelah itu berdasarkan musyawarah dan mufakat dari tua adat, maka akhirnya dinobatkan Jalaluddin Datu Taliwang yang bernama Dewa Ling Gunung Setia sebagai Sultan Sumbawa 1725-1731. Selama masa pemerintahannya Gunung Setia meneruskan kebijakan yang dibuat oleh Sulta Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I dan pada saat yang sama terjadi kebakaran yang mengahanguskan Istanah Bala Balong yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Jalaluddin Muhammadsyah I. Kebakaran itu menyebakan wafatnya Sultan Sumbawa beserta permaisuri dan keluarganya dan seluruh keluarga beliau di makamkan di bukit Gunung Setia yang kemudian diberi gelar Anumerta Datu Ling Gunung Setia. Setelah wafatnya Sultan Sumbawa Gunung Setia, maka penerus tahta kerajaan di gantikan oleh “Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin I 1731-1759. Pada masa pemerintahannya beliau membangun kembali istana yang sudah terbakar dan diberi nama Istana Gunung Setia. Sultan Muhammad Kaharuddin I dikenal sebagai pemimpin yang keras dan tidak mengenal kompromi terhadap penjajah Belanda. Sikap keras itu menjadi langkah jitu sultan untuk mengusir pemerintah hindia belanda dari bumi samawa. Pada tahun 1759 Sultan Muhammad Kaharuddin I wafat maka berdasarkan garis keturunan diangkatnya Dewa Masmawa Sultanah Siti Aisyah 1759-1761. Pada masa perintahannya sering terjadi pereteruan dengan para menteri dan pejabat kesultanan yang menyebabkan Sultanah Siti Aisyah diturunkan dari tahta kerajaan. Setelah itu digantikan oleh “Dewa Masmawa Lalu Onye Datu Ungkap Sermin Dewa Lengit Ling Dima 1761-1762 yang merupakan putra Datu Seppe yang berasal dari keturunan Harunarrasid I. Beberapa tahun memimpin kerajaan Lalu Onye meninggalkan tahta dengan alasan mencari suaka ke Bima. Selanjutnya setelah Lalu Onye meninggalkan tahta kesultanan, maka digantikan oleh Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah II 1762-1765 yang berasal dari banjar. Pada masa kekuasaannya beliau mampu mengenadalikan dan meredam ketegangan yang menyebabkan sering terjadinya konflik diantara kesultanan, selain itu beliau juga berjasa dalam membasmi perompak diperairan Sumbawa disatu sisi dan disisi yang lain beliau melakukan reformasi dan peninjauan kembali terhadap kitab hukum pidanan dan ketentuan-ketentuan lainnya. Setelah wafatnya Muhammad Jalaluddinsyah II maka kekuasaan jatuh ketangan Sultan Mahmud 1765, namun karena umurnya yang masih kecil sehingga yang menjalankan roda pemerintahan ditunjuklah Datu Taliwang Dewa Mappaconga yang bernama Mustafa. Dalam catatan sejarah Kitab Bo bahwa Sultan Mahmud tidak pernah duduk di tahta singgasana kesultanan meskipun sudah dilantik menggantikan ayahnya. Penetapan Mustafa sebagai kesultanan menimbulkan rasa sakit hati bagi datu-datu yang lain karena cara memilih tidak sesuai dengan hokum adat sehingga raja-raja dibagian timur Sumbawa bekerja sama dengan belanda untuk membatalkan pengangkatan Mappacong Mustafa. Studi Historis Arkeologi Arsitektur Tradisional Istana Tua dalam loka Latar belakang historis berdirinya arsitektur tradisional Istana Dalam Loka Sumbawa adalah rumah tinggal keluarga kerajaan yang dibangun oleh Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III 1883-1831 yang merupakan sultan ke-16 dari dinasti Dalam Bawa. Berdasarkan akte yang tertanggal 18 agustus 1885 dari pemerintahan colonial Belanda yang memutuskan Sultan Muhammad jalaluddinsyah III untuk menjadi penguasa di kerajaan Sumbawa dan pada saat itulah pemerintah colonial belanda secara de facto berada di wilayah kesultanan Sumbawa. Arstektur rumah adat tradisional Istana Dalam Loka dibangun pada tahun 1885 dengan pekerjaan dibawah kendali Imam Haji Hasyim yang didesain menggunakan struktur istana yang diadopsi dari arsitektur mode Balla Lampoa di Goa. Bangunan Istana Dalam Loka berbentuk rumah panggung dengan luas bangunan 904 M persegi dengan bahan kayu yang sebagian besar adalah kayu jati. Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 92 Desain arsitektur Istana Dalam Loka dipengaruhi oleh kuatnya pengaruh islam yang masuk di diwilayah kesultanan Sumbawa ikut mengubah tatananan kehidupan masyarakat yang kemudian larut dalam norma dan nilai-nilai syariat islam. Dalam Loka memiliki makna yang tersirat dalam ungkapan kata Dalam yakni Istana dan Loka yang berarti Dunia. Dalam Loka adalah rumah panggung kembar menghadap ke selatan yang berdiri kokoh, kuat, dan megah dengan 99 tiang yang terkandung dalam Usma’ul Husna yaitu 99 sifat allah mengandung makna dengan dapat memberikan suasana kesejukan, tentram, damai, aman, dan nyaman. Istana Dalam loka dibangun untuk menggantikan Istana yang terbakar pada masa kesultanan Gunung Setia yang termuat dalam filosofi adat “Syara Barenti Ko Kitabullah” yang mengandung arti semua adat istiadat maupun nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat Sumbawa dibangun berdasarkan pedoman pada syariat islam. Dalam Loka merupakan saksi sejarah yang menggambarkan tentang implementasi syariat islam pada kesultanan Sumbawa. Dengan arsitektur tradisional dirancang menggunakan ornament dengan symbol-simbol ajaran islam dan bahkan pada rentang waktu proses pembuatan tercermin pada umur manusia di dalam kandungan yaitu Sembilan bulan 10 hari. Arsitektur ini memiliki dua atap yang berbentuk kembar dengan satu tangga naik yang berada ditengah depan menghadap selatan yang merujuk pada syarat rukun sholat yakni “Attahiyat”. Bentukan ini dibuat untuk mengingatkan kepada keluarga kerajaan beserta rakyatnya agar selalu melaksanakan sholat waktu sehari semalam. Istana Dalam Loka adalah arsitektur tradisional yang terbesar dan terdapat ruangan-ruangan yang cukup besar di dalamnya dengan memiliki fungsi antara lain, 1, Lunyuk Agung, berfungsi sebagai ruang untuk melangsungkan acara resepsi keluarga raja, musyawarah dan mufakat, 2, Lunyuk Mas, adalah ruang khusus untuk istri raja, istri menteri, dan pembantu penting kerajaan apabila dilakukan musyawarah dan mufakat, 3. Ruang Dalam, merupakan bagian dari ruangan untuk mengadu dan melapor setiap ada kegiatan yang dianggap perlu, 4, Ruang Dalam, ruang ini terdiri empat ruang kamar yang diperuntungkan untuk putra dan putri raja yang sudah berkeluarga, 5, Ruang Sidang, runag ini pada malam hari digunakan untuk tempat tidur para dayang, 6, Ruang Dapur, ruang ini berfungsi untuk menyiapkan makanan para penghuni istana, 7, Kamar Mandi, 8, Bala Bule, merupakan ruang dua susun, untuk lantai pertama digunakan untuk bermain putra dan putri mahakota, sedangkan lantai kedua tempat untuk menyaksikan permainan dan pertunjukan di luar istana, sedangkan dihalaman istana terdapat tempat-tempat penting dimulai dari kebun keban alas, rumah jam lonceng, kandang kuda dan mesjid. Pemugaran dan Modernisasi Arsitektur Istana Dalam Loka Istana Dalam Loka merupakan rumah panggung berskala besar, modern dan indah yang berdiri kokoh, kuat dan tahan lama berada di jantung kota Kabupaten Sumbawa dengan menghadap keselatan. Bangunan ini didesai menggunakan ornament yang khas dengan rumah adat Gowa Makassar. Secara arsitektur, unusur-unsur yang digunakan adalah kayu dengan menggunakan struktur rangka berupa tiang dan balok yang berukuran besar yang dipasang secara teratur sebagai penyanggah kekuatan.. Bentuk strukturnya menonjol dengan skala megah dan secara vertikal bangunan terdiri dua lantai diantara lantai satu menyatu dengan dua bagian bangunan sedangkan lantai dua terpisah antara bagian barat dengan timur bangunan. Ornament dalam arsitektur tradisional Istana Dalam Loka tidak dihiasi dalam bentuk lukisan yang menghiasi kayu-kayu bangunan ini. Hampir seluruh bagian Gambar 1 Istana Tua Dalam Loka Sebelum Pemugaran Dok. Arsip Daerah Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 93 kayu yang digunakan berbentuk polos tanpa ukiran dan cat. Gambar 2 Istana Tua Dalam Loka Hasil Pemugaran Dok. Pribadi Berdasarkan hasil pengkajian dan penilaian oleh tim Balai Pelestraian Cagar Budaya Bali, NTB, dan NTT bahwa Istana Dalam Loka memiliki tingkat kerusakan cukup signifikan dan perlu dilakukan pelesetarian. Proses pelaksanaan pemugaran arsitektur tradisional ini disebabkan karena factor umur yang sudah tua dengan kedudukan bangunan yang miring, retak, pelapukan dan rapuh yang tidak memungkinan untuk mempertahankan. Komponen-komponen kayu bangunan harus diganti demi melestarikan kedudukan situs cagar budaya sebagai warisan sejarah yang secara terus menerus dipertahankan untuk kepentingan bangsa dan Negara. Dalam pelaksanaan pemugaran menurut Undang-undang RI No. 11 tahun 2010 tentang pelestarian cagar budaya dengan ketentuan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan berkoordinasi dengan ahli arkeologi untuk memperhatikan etikan dan ekstensi bangunan. Pemugaran dilakukan untuk mengembalikan kondisi fisik bangunan cagar budaya yang rusak dengan ketentuan dengan tidak mengubah, menggeser, apalagi memindahkan benda purbakala ke tempat lain. Pemugaran bangunan arsitektur tradisional Istana Dalam Loka dilakukan pada tahun 1994 untuk menjaga kerusakan dengan cara memperbaiki, memperkuat, dan mengawetkan terhadap bahan-bahan bangunan yang digunakan melalui rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, dan restorasi. Hal ini merupakan serangkaian kegiatan dan upaya perbaikan pemulihan yang bertujuan untuk menjaga keaslian, bentuk bangunan, memperlambat proses kerusakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Adapun hasil pemugaran Istana Dalam Loka dimulai dari 1, Pondasi, bertujuan untuk alas tiang bangunan agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Awalnya pondasi menggunakan batu kali berbetuk bulat, namun setelah terjadi pemugaran maka batu kali digantikan menjadi semen beton yang lebih tinggi agar tidak tergenang resapan air sehingga menyebabkan kerusakan terhadap ujung bawah tiang. 2, Kemiringan, bangunan Istana Dalam Loka memiliki 99 tiang dengan menggunakan kayu jati yang masih asli dan tidak berubah, sedangkan tiang penyanggah sebagai rekonstruksi atap menagalami pergantian. Sebelumnya bangunan rumah panggung ini mengalami kemiringan akibat tekstur bangunan bagian bawah terjadi penurunan posisi yang kemudian kemiringan itu di angkat menjadi berdiri tegak lurus setelah terjadi pergantian kayu yang mengalami kerusakan. 3, Lantai, pada saat dibangunnya istana dalam loka, lanta menggunakan papan kayu biasa yang didatangkan dari daerah pelosok Sumbawa, namun setelah adanya pemugaran, lantai mengunakan kayu jati yang berukuran 3x30 cm disusun secara satu kesatuan yang rapih. 4, Dinding, berdasarkan analisa arkeologi bahwa dinding mengalami perubahan secara total yang awalnya terbuat dari perpaduan antara kayu bambu dengan kayu papan dan setelah terjadi renovasi maka dinding diganti menjadi kayu jati dengan ukuran 6x11 cm dan ketebalan 2 cm serta lebar 30 cm. 5 Atap, atap memiliki dua bagian yang terpisah yang pada awal berdirinya menggunakan seng yang didatangkan dari Singapura dan setelah terjadinya kerusakan serta banyak yang bocor menyebabkan air hujan masuk kedalam rumah sehingga atap yang menggunakan seng di ganti menjadi lapisan kayu uli yang didatangkan dari Daerah Kalimantan. KESIMPULAN Arsitektur tradisional Istana Tua dalam loka merupakan warisan cagar budaya yang dibangun pada masa Kesultanan Muhammad Jalaluddinsyah III 1883-1931. Istana dalam loka adalah rumah panggung besar yang Jurnal Ilmiah Mandala Education Terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 4 Oktober 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 94 berdiri kokoh, kuat, dan modern berlantai dua berpusat di tengah kota Kabupaten Sumbawa dengan luas bangunan 696,98 meter persegi dan memiliki 99 tiang penyanggah. Berdasarkan hasil pengkajian penilaian dari Balai Purbakala dan Arkeologi Bali, NTB, dan NTT bahwa Istana Tua dalam loka mengalami tingkat kerusakan yang cukup parah dengan kondisi kemiringan dan proses pelapukan terhadap kayu-kayu sehingga perlu dilakukan upaya pemugaran dan pengangkatan kembali terhadap rumah adat tersebut. Pemugaran arsitektur ini dilakukan 90% kecuali tiang yang masih asli, sedangkan unsure-unsur lain dimulai dari pondasi, lantai, dinding, tiang penyangga atap lantai dua, dan atap mengalami pergantian. SARAN Penelitian ini lebih menjelaskan tentang pemugaran kembali terhadap rumah adat tradisional Arsitetur Tradisional Dalam Loka akibat kerusakan dan pelapukan kayu-kayu dengan tingkat kerusakan yang cukup signifikan. Adapun syaran dari penulis adalah untuk tidak merubah dari bentuk keaslian arsitektur tradisional sehingga tidak terkesan menghilangkan nilai-nilai sejarah yang terkadung di dalamnya. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini bukanlah hal yang baru namun sudah ada penulis-penulis terdahulu yang menulis tentang rumah adat Istana Dalam Loka di Sumbawa. Untuk itu penulis menyarankan agar penulis selanjutnya dapat menjelaskan secara objektif dalam mengungkapkan situs-situs sejarah. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terlaksananya penelitian ini tidak lupa kami selaku tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud Lembaga Pelayanan Pendidikan Tinggi Wilayah VIII LLDIKTI-VIII atas pemberian dana penelitian, sehingga penelitian ini bisa terlaksana sesuai dengan waktu yang ditetapkan. DAFTAR PUSTAKA Chairil B. Amiuza, 2017. Semiotika Arsitektur Tradisional Sumbawa. Jurnal RUAS, Vol. 2 Henny Gambiro, Ahmad Yamin, 2018. Meneropong Istanah Tua Dalam Loka Warisan Arsitektur Tradisonal Sumbawa. Sumbawa Besar Jurnal Arsitektur Bangunan & Lingkungan. I Nyoman Sumartika, dkk, 2010. Purnapugar Istana Dalam Loka. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali, NTB, dan NTT Koentjaraningrat, 1983. Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta Maryono Irawan, 1985. Pencermin Nilai Budaya Dalam Arsiterkur Indonesia, Jakarta Penerbit Jambatan. Rahil Muhammad Hasbi, 2017. Kajian Kearifan Lokal Pada Arsitektur Tradisional Rumah Aceh, Aceh Jurnal Arsitektur Bangunan & Lingkungan Univesitas Marcu Buana. Ricky FS. Rumagit, 2015. Arsitektur Tradisional Orang Kaili, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal Kebudayaan. Saing A. M. 2010. Arsitektur Tradisional Rumah Adat Bugis Makassar. Makassar Indira Art Sardjono, Nurdin, Agung, 2011. Arsitektur Dalam Perubahan Kebudayaan. Doktor Teknik Arstektur Perkotaan. Soerjono Soekanto, 1982. Pengantar Ilmu Sosiologi, Jakarta Penerbit Rajawali Pers Zain, Zairin, 2012. Pengaruh Aspek Eksternal Pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas Kalimantan Barat. Jurnal IPS Vol. 4 Dova NovitaI Made SuyasaAgusman AgusmanRizal KurniansahPermasalahan yang dikaji dalam penelitian ini terkait dengan pengembangan Istana Dalam Loka yang telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Sumbawa dan merumuskan strategi pengembangan yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan sosial Istana Dalam Loka. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan di Istana Dalam Loka Kecamatan Sumbawa, Kota Sumbawa, NTB. Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan informan antara lain Kabid. Kebudayaan, Kabid. Pariwisata, juru pelihara, budayawan, wisatawan, dan masyarakat dengan teknik analisis data berupa reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Analisis selanjutnya menggunakan SOAR untuk merumuskan strategi pengembangan Istana Dalam Loka yang tepat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan Istana Dalam Loka belum dilaksanakan secara optimal, khususnya pengembangan pada komponen pengembangan destinasi wisata 4 A. Hal tersebut terjadi karena adanya tumpang tindih dalam pembagian tugas terkait dengan pengelolaan Istana Dalam Loka. Sementara itu, analisis SOAR menunjukkan perumusan strategi berupa perlu adanya peningkatan sinergitas antar-stakeholder,pembangunan sarana prasana, pemberdayaan masyarakat, sosialisasi dan pelatihan, optimalisasi peran DIKBUD dan DISPOPAR, kerjasama dengan pengelola museum, pembentukan organisasi atau kelompok seperti UKM masyarakat dan Pokdarwis. Perumusan strategi ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan oleh stakeholder dalam pengembangan Istana Dalam Loka sebagai daya tarik wisata Kota Sumbawa GambiroAhmad YaminTo look through traditional architecture inheritance of old traditional house Sumbawa palace Dalam Loka, the former palace of the king of Sumbawa empire. The traditional house is located in Sumbawa City, wester southeast Sumbawa Regency. The architectural shape of old palace as a house on stilts reflects a cultural form in the past. The objective of this paper is to reveal space form, space function, structure and the elements of the house, decoration, and the old palace architecture cosmology. Research method used is descriptive with qualitative approach. Data collection techniques are in the forms of observation, interview, and literature studies. The result shows that the form and function of the old palace building consist of three parts, namely the top, the middle and the bottom. The architecture of that old palace has a philosophy namely Salimpat which describes that all human life aspects would be perfect only if in the form of rectangular. That rectangular philosophy is reflected in the form of land area, the columns, the windows and the room space Warisan arsitektur tradisional Sumbawa rumah adat Istana Tua Dalam Loka, yang dahulu digunakan sebagai istana Raja Kesultanan Sumbawa. Rumah adat itu berlokasi di Kota Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Arsitektur rumah adat Istana Tua Dalam Loka yang berupa rumah panggung, mencerminkan bentuk kebudayaan masa lampau. Tujuan penulisan ini adalah, mengungkapkan bentuk dan fungsi ruang, struktur dan elemen bangunan, ragam hias, serta kosmologi dalam arsitektur Istana Tua Dalam Loka. Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dan fungsi bangunan Istana Tua Dalam Loka, terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian atas disebut loteng atau Alang, bagian tengah merupakan badan rumah disebut ruang Dalam Loka Istana Tua, dan bagian bawah atau kolong yang disebut Tabongan. Arsitektur Dalam Loka menganut falsafah Salimpat yang menggambarkan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk segi empat. Falsafah tersebut direfleksikan pada bentuk areal tanah, tiang rumah, jendela dan Istana Dalam Loka. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali, NTB, dan NTT KoentjaraningratI Nyoman SumartikaI Nyoman Sumartika, dkk, 2010. Purnapugar Istana Dalam Loka. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali, NTB, dan NTT Koentjaraningrat, 1983. Pengantar Ilmu Antropologi, JakartaPencermin Nilai Budaya Dalam Arsiterkur IndonesiaMaryono IrawanMaryono Irawan, 1985. Pencermin Nilai Budaya Dalam Arsiterkur Indonesia, Jakarta Penerbit Muhammad HasbiRahil Muhammad Hasbi, 2017. Kajian Kearifan Lokal Pada Arsitektur Tradisional Rumah Aceh, Aceh Jurnal Arsitektur Bangunan & Lingkungan Univesitas Marcu Tradisional Orang Kaili, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal KebudayaanRicky Fs RumagitRicky FS. Rumagit, 2015. Arsitektur Tradisional Orang Kaili, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal Tradisional Rumah Adat Bugis MakassarA M SaingSaing A. M. 2010. Arsitektur Tradisional Rumah Adat Bugis Makassar. Makassar Indira Art Sardjono, Nurdin, Agung, 2011. Arsitektur Dalam Perubahan SoekantoSoerjono Soekanto, 1982. Pengantar Ilmu Sosiologi, Jakarta Penerbit Rajawali Pers Zain, Zairin, 2012. Pengaruh Aspek Eksternal Pada Rumah Melayu Tradisional di Kota Sambas Kalimantan Barat. Jurnal IPS Vol. 4

ObjekWisata Budaya Pulau Sumbawa. 1. Dalam Loka. Istana Dalam Loka terbuat dari kayu yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (sekitar tahun 1885 M). Saat ini digunakan sebagai "Museum Daerah Sumbawa" tempat penyimpanan benda-benda sejarah Kabupaten Sumbawa.

A. Kerajaan Ternate Tidore Kehidupan Politik di Kerajaan Ternate Tidore Di Maluku terdapat dua kerajaan yang paling berpangaruh, yakni Ternate dan Tidore. Ternate berhasil meluaskan wilayahnya dan membentuk Uli Lima. Kerajaan Tidore juga berhasil memperluas pengaruhnya dan disatukan dalam Uli Siwa. Mula-mula Kerajaan Ternate dan Tidore dapat hidup berdampingan dan tidak pernah terjadi konflik. Namun, setelah kedatangan bangsa Eropa di Maluku, mulailah terjadi pertentangan. Kerajaan-kerajaan di Maluku tidak bersatu dalam menghadapi musuh dari luar, tetapi malah bersaing dan saling menjatuhkan. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Baabullah. Sultan Baabullah dapat meluaskan daerah kekuasaannya di Maluku. Daerah kekuasaannya terbentang antara Sulawesi dan Papua. Pada abad ke-17, bangsa Belanda datang di Maluku dan segera terjadi persaingan antara Belanda dan Portugis. Belanda akhirnya berhasil menduduki benteng Portugis di Ambon dan dapat mengusir Portugis dari Maluku 1605. Belanda yang tampa ada saingan kemudian juga melakukan tindakan yang sewenang-wenang. Tindakan-tindakan penindasan tersebut jelas membuat rakyat hidup menderita. Sebagai reaksinya rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata melawan VOC. 2. Kehidupan Ekonomi di Ternate Tidore Kehidupan rakyat Maluku yang utama adalah pertanian dan perdagangan. Tanah di Kepulauan Maluku sangat subur dengan hasil utamanya cengkih dan pala. Dengan hasil rempah-rempahnya maka aktivitas perdagangan rakyat Maluku maju dengan pesat. 3. Kehidupan Sosial dan Agama Raja Maluku yang mula-mula memeluk agama Islam adalah Raja Ternate. Banyak rakyat Maluku yang memeluk agama Islam terutama penduduk yang tinggal di tepi pantai. Portugis juga menyebarkan agama Katolik. Terdapat berbagai agama yang ada di kehidupan sosial. 4. Budaya Budaya di Ternate Tidore tidak berkembang pesat karena fokus dengan perdagangan. B. Kerajaan Lombok 1. Politik Sunan Prapen berhasil mengislamkan Raja Lombok, Prabu Rangkesari. Kemudian, Prabu Rangkesari memindahkan pusat kekuasaan ke Selaparang. Pemindahan pusat kerajaan membawa suasana dan kondisi membaik bagi kerajaan dan rakyatnya. Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Kerajaan Lombok pernah diserang Kerajaan Gelgel dari Bali sebanyak 2 kali. Namun, kedua serangan tersebut dapat dipatahkan. 2. Sosial Agama Islam masuk melalui perdagangan. Mula-mula pedangang datang untuk berdagang, kemudian banyak diantara mereka yang bertempat tinggal menetap bahkan mendirikan perkampungan-perkampungan. Para pendatang dengan suku Sasak mengadakan hubungan saling menghormati. 3. Budaya Lombok dapat menciptakan sendiri aksara Sasak. Para pujangganya mengarang, menggubah, mengadaptasi, atau menyalin ke dalam lontar-lontar Sasak. Pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para walisongo, hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi. 4. Ekonomi Labuan Lombok banyak dikunjungi para pedagang. Labuan Lombok sebagai pelabuan dagang disinggahi para pelaut dan saudagar muslim dari Jawa dan mulailah timbul bandar-bandar tempat para pedagang sehingga semakin ramai. Komoditas utama masyarakat Lombok adalah padi. C. Kerajaan Bima Politik Agama Islam masuk di Bima melalui pelabuhan Sape. Abdul Kahir dinobatkan menjadi Raja Bima. Kesultanan Bima mengadakan hubungan dengan kerajaan di sekitarnya, salah satunya dengan Kerajaan Gowa. Perjanjian Bungaya akhirnya memisahkan Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima, karena semangat anti penjajahan antara kedua Kesultanan sangat merugikan perdagangan monopoly bagi Belanda di perairan Indonesia timur. Kerajaan Bima berakhir pada tahun 1951 karena Sultan Muhammad Salahuddin meninggal dunia. 2. Ekonomi Kerajaan Bima telah menjalin hubungan dagang dengan VOC. Melalui perjanjian, kerajaan-kerajaan di pulau sumbawa tidak boleh dilarang mengadakan hubungan politik maupun dagang dengan daerah-daerah lain, dengan bangsa Eropa lain atau dengan seseorang kecuali dengan persetujuan dan ijin dari VOC. 3. Budaya Setelah agama Islam masuk ke Bima, kemudian berkembang tradisi tulis. Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya. Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya rimpu. 4. Sosial Agama Islam relatif mudah diterima, karena orang Bima sebenarnya telah lama mengenal agama Islam melalui para penyiar agama dari tanah Jawa, Melayu bahkan dari para pedagang Gujarat India dan Arab di Sape. Bima menjelma menjadi pusat penyebaran Islam di wilayah timur Nusantara. Saat ini, di beberapa daerah di Bima, terjadi percampuran antara Islam dan tradisi lokal. D. Kerajaan Sumbawa Politik Pada tahun 1674 M dinasti baru terbentuk dan diberi nama Dinasti Dewa Dalam Bawa’. Saat itu, rakyat Sumbawa sudah mulai memeluk agama Islam. Luas wilayah kekuasaannya dimulai dari wilayah taklukan Kerajaan Empang hingga Jereweh. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III, campur tangan Belanda sudah terlalu jauh, terutama dalam hal menarik pajak. Akhirnya meledaklah pemberontakan rakyat. 2. Ekonomi Kerajaan Sumbawa bertumpu pada kegiatan pertanian lahan kering dan peternakan kuda. 3. Sosial Rakyat Sumbawa sangat terbuka dan penuh toleransi. 4. Budaya Peninggalan budaya Kerajaan Sumbawa, antara lain Kitab Suci Al Qur’an dengan tulisan tangan oleh Muhammad Ibnu Abdullah Al Jawi dan Istana Dalam Loka. Politik Politik Islam di Papua berkembang karena adanya pengaruh kerajaan Islam di Maluku. Pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate ditemukan di Raja Ampat, Fak-Fak dan Kaimana. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. 2. Sosial Islam dikembangkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui Banda. Sistem sosial kerajaan Islam di Papua menganut sistem hukum Islam. 3. Ekonomi Terdapat beberapa pedagang muslim yang singgah di Papua. Selain itu, daerah Papua memiliki kekayaan tambag dan rempah-rempa. 4. Budaya Peninggalan Islam di Papua tidak sebanyak di daerah lain. Namun demikian bukan berarti hal tersebut menjadikan Papua sepi dari peninggalan Islam. Ada beberapa peninggalan sejarah Islam di Papua, misalnya Masjid Tunasgain.
Dengandemikian kehidupan ekonomi kerajaan Banten terus berkembang baik yang berada di pesisir maupun di pedalaman. Kehidupan Sosial Budaya. Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan Makassar baik ke atas sampai ke Sumbawa dan sebagian Flores di selatan. Karena merupakan bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur, Hasanuddin bercita
Sumbawa Pulau Sumbawa, Nusatenggara Barat, sebelumnya adalah kesultanan yang mempunyai hubungan erat dengan Kerajaan Makassar Sulawesi Selatan. Namun, pada 1959 Kesultanan Sumbawa dibubarkan dan menjadi Kabupaten Sumbawa dengan ibu kotanya di Sumbawa Besar. Sultan terakhir adalah Muhammad Kaharuddin III. Sisa-sisa peninggalan kesultanan kini terawat dengan baik. Istana peninggalan Sultan Muhammad Jalaludin III, misalnya, yang dibangun awal Abad ke-20, hingga saat masih terawat dengan baik. Di Istana Loka tersimpan barang-barang peninggalan kesultanan seperti keramik dari zaman Dinasti Ming dan seperangkat alat pengobatan raja. Selain dikenal dengan peninggalan sejarahnya, Sumbawa juga dikenal sebagai penghasil madu alami dan tenun ikat. Madu alami diambil warga dari hutan dan pegunungan. Dari mulai mengambil madu di sarang hingga pemerasan masih menggunakan cara-cara tradisional. Madu diambil dari hutan dengan menggunakan obor. Asap obor ini berfungsi mengusir lebah dari sarangnya. Selanjutnya sarang madu diambil dan dimasukkan ke dalam ember. Setiap sarang dimasukkan ke dalam ember terpisah. Sebab, setiap sarang madu mempunyai kekentalan, rasa, dan aroma berbeda. Perbedaan ini terjadi karena beragamnya bunga yang diisap lebah. Setiap satu sarang lebah terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian madu, bipolen, dan anak lebah. Bipolen dan madu mempunyai nilai ekonomi tingggi. Khusus bipolen, biasanya hanya ada dua sampai tiga pekan sebelum hujan dalam setahun. Bipolen dikonsumsi langsung dan sangat bagus untuk pertumbuhan sel tubuh. Sementara harga madu lebah Sumbawa Rp dalam botol 620 mililiter. Sumbawa juga dikenal dengan tenun ikat. Pusat industri tenun di Desa Sekatoh atau sekitar delapan kilometer dari Sumbawa Besar. Pusat kerajinan ini dibangun pada tahun 80-an. Awalnya, tenun ikat itu menjadi pekerjaan sampingan ibu-ibu rumah tangga. Namun, seiring maraknya industri pariwisata tenun ikat Sumbawa menjadi potensi ekonomi masyarakat. Satu lembar tenun ikat dijual Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu.YYT/Asti Megasari dan Effendi Kasah* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan. .
  • 90xv0s73sn.pages.dev/361
  • 90xv0s73sn.pages.dev/209
  • 90xv0s73sn.pages.dev/457
  • 90xv0s73sn.pages.dev/97
  • 90xv0s73sn.pages.dev/207
  • 90xv0s73sn.pages.dev/336
  • 90xv0s73sn.pages.dev/116
  • 90xv0s73sn.pages.dev/404
  • kehidupan ekonomi kerajaan sumbawa